Posted by: deatantyo | February 10, 2017

REMBES

Saya lagi di Damri. Basah kuyup menuju kantor. Beberapa menit sebelumnya, keujanan ngegojek hantam badai menuju terminal. Beuh.

Sepanjang perjalanan saya jadi mikir, ada orang-orang -bapak tua dan bahkan nyetir sambil batuk-batuk- tapi rela terus kerja bawa motor di tengah hujan deras.

Kita masuk kantor ujan-ujan kayanya sering, tapi ngegojek sambil basah kuyup dengan mata dihantem air dan kesemprot cipratan mobil? Kayanya jarang.

Saya jadi yakin, pasti ada sesuatu yg gerakin bapak-bapak ini atau bpk-bpk lain yg terus banting tulang meski dlm keadaan sulit.

Bisa jadi doa istrinya.. yg ngedorongnya bisa sampe seheroik itu. Atau mungkin kebayang senyum anaknya yg masih kecil dan riang saat si bapak pulang bawa rizki dan makanan.

Atau mungkin yg jauh lebih besar dari itu: karna iman. Yg yakin bahwa Allah dah ngatur rizki, tugas kita tinggal ikhtiar dan nempelin kayakinan.

Persis cerita seorang ikhwan yg muter haluan hidup demi jemput hidayah. Pernah jadi chef dan wine tester specialist. Tukang icip-icip minuman anggur. Dan pernah kerja di Dubai. Sekarang? Jenggotnya makin lebat dengan celana ngejaga isbal. Jualan susu kedelai dan sari kacang ijo di pasar. Ngolah jam 2 malem, tahajud, jualan sampe jam 9. Penghasilannya gak banyak, tapi syukurnya yg bikin beliau gagah.

Orang-orang jenis ini mungkin ga punya tabungan di bank, hidupnya serba kerontang, tapi tabungan syukurnya begitu kaya. Sukacita demi keluarga. Orang-orang yg ga pernah ngeluh dgn hidup.

Banyak orang-orang besar seperti ini. Tempat kita belajar untuk liat kebawah kalo hati dah mulai sombong atau ngerasa ga puas dengan gaji dan kerjaan. 🙂

***

Saya masih di Damri. Alhamdulillah, baju dan celana dah kering. Tapi entah kenapa, setelah ngegojek tadi pagi, dan inget saudara-saudara yg lebih milih jalan hidayah dgn hidup sederhana.. hati saya pagi ini jadi rembes. Hehe

Posted by: deatantyo | February 3, 2017

RAKYAT

Hari semakin biru saat kau dan aku duduk memandangi rintik yg membasahi jendela :

Di surga.. setiap hasrat seketika langsung menjelma. Maka, jurang antara keinginan dan kepuasan menjadi sirna, dialektika pun hilang, hasrat jadi tiada, dan manusia berbahagia.

“Tapi kita sedang hidup di dunia,” katamu.

Maka kesabaran atas tiap perilaku manusia menjadi sebuah usaha yg perlu diperjuangkan meski kadang paling menyakitkan.

“Dunia sudah terlampau sesak oleh kemelut.” jawabmu.

Tapi kelelahan ada batasnya. Dan rakyat yang bahagia adalah mereka yang tak menyandarkan kegelisahannya… pada penguasa.

Posted by: deatantyo | February 3, 2017

MEMBACA & TINGKAT KEGANTENGAN

“Ada banyak jalan menuju Mekkah” kata Rumi, di fiihi maa fiihi. Saya belokan sedikit; Ada banyak jalan menuju kebahagiaan. Aktivitas yg membahagiakan. Salah satunya dgn membaca.

Saya ingat candaan si Bung, kepada sohib sejatinya, Hatta. “Jika di angkot tertinggal Hatta dan seorang perempuan cantik, tebak apa yg dilakukan Hatta? Jawabannya Baca Buku.”

Saya percaya, bahwa Buku, sebagaimana Futsal, punya unsur kimia ajaib. Apalagi buat laki-laki. Itu yg membuat aktivitas Founding Father, terpaku pada 2: Berjuang dan Baca.

Bung Karno di usia sekolah udah baca ratusan buku yang tebal bukan main. Bahkan dgn rendah hati pernah meminta maaf jika analisis agamanya belum hebat karna baru baca sekitar 500 buku islam. (Lima ratus, bro)

Tahu Buya Hamka kan? Ulama legendaris itu bahkan melahap semua genre bacaan, dari karya pujangga Arab sampe Eropa; dari Haekal sampe Tonybee, Marx, Sartre, Freud, Albert Camus.

Atau Bill Gates yg di usia 10 tahun telah membaca habis World Book Encylopedia seri pertama hingga terakhir.

Ini belum cerita ttg Hittler yg melahap buku di perpustakaan Wina, atau gimana di Gedung Putih, Theodore Roosevelt rutin baca 3 buku sehari. Kalo kita? makannya yg 3 kali sehari. *Padahal para ulama dan beberapa teman penghafal Quran makan maks 2x sehari. Kasian ya kita..

Dan itu semua masih seujung kuku hobi bacanya Ulama semisal Imam An Nawawi yg gak cuman baca tapi juga hafal 7000 hadist Imam Muslim dgn sekitar 9-10 sanad ditambah 4-5 sanad inti dari Imam Muslim sampai Nabi. Kita boro-boro hafal, bacanya aja jarang.

2017 mestinya jadi titik, kita mulai bangun lagi. Kalo memang njenengan bikin resolusi, mesti selipin didaftar paling atas Jumlah bacaan yg bakal dituntasin setahun ini. Dibagi bulan. Dibagi hari.

Saya juga bangun lagi ini. Sama, saya juga males ko. Dan kadang so sibuk. Karna itu saya cb sempetin baca meski bentar-bentar; di bus; sambil ngetik; sambil makan nasi uduk; sambil main sama Aisha; sambil diri di kereta; dan sambil-sambil yg lain.

Ngeri gan kalo kita punya es krim terus mencair. Ngeri kalo kita punya sumur, kering airnya. Dan paling ngeri kalo kita punya pikiran tapi kurang isinya. 😦

Baca itu menggembirakan. Dan dari hobi baca itu, cara komunikasi kita, cara ngobrol kita, cara nulis kita, tatapan mata kita, sampai wajah kita, semua bakal beda.. Dan bakal nambah ganteng. Serius ini.

Lah kalo udah begini, calon mertua mana yg bakal nolak lelaki ganteng jenis begini.

Okesip. Yu gan, kita baca. Ane temenin.

Salam,
Dea Tantyo
Penerima penghargaan cowok terganteng versi mamah bapak.

Posted by: deatantyo | December 23, 2016

AIR MATA

Saat anak saya jatuh, selalu saya tanya, “mana lukanya,” “sebelah mana yg sakit,” saya coba doa sedikit yg saya bisa, beberapa detik kemudian, Aisha diam, ia lupakan perih dan tangisnya.

Saya tak melarangnya menangis, tapi saya memuji saat ia berhenti mengeluarkan air mata.

Dari Aisha saya justru belajar, betapa kuatnya seorang anak melupakan luka-luka. Dan betapa cepat seorang anak belajar bahwa air mata yg muncul krn perbuatannya sendiri adalah tanggung jawab. Kita orang dewasa kadang jauh kalah memahami ini.

Saya jg membayangkan, perihnya hidup yg dialami Bung Karno, Hatta, Syahrir, Tjipto, Agus Salim, dan orang-orang besar yg menghadapi hidup dgn jantan. Habis hak dan kebebasannya dilucuti penjajah. Dihantam cobaan, hingga luka menulangsumsum dlm hidup.

Tapi air mata mereka tak pernah tumpah meminta dikasihani atas jalan hidup yg mereka pilih sendiri.

Tinggalah kita yg perlu ditangisi. Karna kepongahan, karna mudahnya mencibir, karna.. banyaknya orang tersiksa akibat lisan dan kelakuan kita. Lalu dgn mudahnya kita lupakan dan lari tanggung jawab itu.

Saya selalu mengajari Aisha; jangan pernah lemah utk melawan hidup. Jangan cengeng dan lari saat menuai perbuatan yg telah kita tanam sendiri. And she was bouncing back.

Ah, saat saya menasihati Aisha, justru sayalah yg sebenrnya sedang menasihati diri sendiri. Kita orang dewasa, dgn kepongahan kita, justru yg paling mesti belajar ttg hidup.

“Jangan pernah kau menantang berkelahi lalu menangis setelah diladeni.”

(Dea Tantyo)

Posted by: deatantyo | December 2, 2016

AHLAN WA SAHLAN (212)

AHLAN WA SAHLAN
2 DESEMBER 2016
@DeaTantyo

Pernah ada satu hari di tengah Republik, sekelompok kecil orang bergerilya turun ke desa masuk ke hutan. Lewatin semua kesulitan. Menembus setiap jalur terjal dan mendaki. Juga bersama rombongan itu 1 laki-laki ringkih dgn kaki kurus ditopang tongkat.

Kelompok yg secara logika, gampang ditaklukan. Tapi sejarah bilang ke kita orang-orang ini yg justru dg gagah jaga Republik. Sampai puncaknya Belanda mengakui kedaulatan RI pada tanggal 27 Desember 1949, dan benar-benar hengkang dari ibu pertiwi.

Tapi laki-laki itu, Pak Dirman namanya, sepertinya memang ditakdirkan hanya untuk berjuang, bukan untuk menikmati kemerdekaan yg telah beliau perjuangkan. Beliau wafat dalam sakit beliau pada tanggal 29 Januari 1950, hanya berselang 1 bulan setelah pengakuan kedaulatan RI.

Sampai tibalah hari ini 2 Desember 2016. Generasi dan anak keturunan Sang Jendral lahir dan mengulang gerilya dgn jumlah berkali lipat.

Dan serupa seperti sang panglima, mereka orang-orang yg merelakan hari-harinya utk membayar masa depan generasi keturunannya. Kita, saya dan Anda mesti wafat pada akhirnya, tapi saya ingin agar Aisha anak saya, dan anak-anak Anda dapat hidup damai saling bersaudara di tanah air tempat lahirnya. TANPA DIJAJAH.

Kita juga berharap, agar anak-anak kita kelak adalah mereka yg lahir beriman, berilmu dan punya akhlak yg santun & beradab.

Persis Surat Pak Gatot Subroto yg dulu dikirim ke Bung Dirman, Panglima Besar sekaligus Jendral paling Jendral itu..

“Meskipun buah-buahnya kita tidak turut memetik, melihat pohonnya subur, kita merasa gembira”

2 Desember 2016
Adalah satu hari yg kita upayakan utk agama, bangsa dan anak-anak kita.

Ahlan Wa Sahlan, wahai para pejuang
#aksi212

Posted by: deatantyo | December 2, 2016

MATEMATIKA HIDUP

MATEMATIKA HIDUP

@DeaTantyo

What makes man a real man? Pilihan hidup. Great by Choice.

Soekarno dan Hatta, intelektual brilian itu, yg lulus dari kampus bangsawan itu, mestinya bisa hidup tenang dan nyaman. Bekerja pada pemerintah Hindia Belanda. Lalu mapan dlm gelar dan materi.

Haji Agus Salim, orang tua jenius itu, mestinya bisa hidup mewah dan nyaman. Lulusan terbaik HBS se-Hindia Belanda. Memiliki potensi karir sbg intel muda dan konsulat Beland. Dan dikabarkan bergaji 750 gulden, saat keluarga lain hidup dg 12 gulden.

Syafrudin Prawira Negara. Sang Penyelamat Republik. Mestinya bisa hidup mapan dan nyaman. Bertitel sbg menteri keuangan. Bahkan PRESIDEN Darurat Republik Indonesia. Harta dan tahta di depan mata.

Dr. Tjipto Mangunkusumo, mestinya bisa hidup bahagia dan nyaman. Seorang dokter brilian. Dan memiliki banyak peluang membuka rumah praktik. Juga lahir dari keluarga kaya berpendidikan.

Tapi perhitungan hidup tak harus sama. Mereka orang-orang yg seakan keliru dlm matematika. Salah mengkalkulasi bagaimana utk hidup tenang, mewah, mapan, dan bahagia. Tapi selalu sukacita dlm hidup.

Bahwa Soekarno Hatta justru “tenang” dgn hidup dari penjara ke penjara. Dari pengasingan ke pengasingan. Dari percobaan pembunuhan.

Bahwa Haji Agus Salim justru merasa “mewah” dgn hidup melarat, tinggal nomaden dgn rumah yg luasnya tak lebih dr sekamar kosan.

Bahwa Syafrudin Prawiranegara, justru merasa “mapan” dgn menjadi menteri keuangan yg tak punya uang. Dengan istri yg berjualan sukun goreng.

Bahwa Dr. Tjipto, justru “bahagia” dgn hidup yg menjadi tahanan. Dan diserang asma. Dihempas hak hidupnya oleh Belanda. Bahkan wafat sblm menikmati kemerdekaan.

Mereka jenis manusia yg memperlakukan matematika hidup tak hanya utk beasiswa dan gelar akademik, melainkan utk melawan kesewenangan, utk memilih hidup bersama rakyat, dan utk memberi dan memberi. Mereka orang-orang yg membuat cemburu kita yg belum bisa berbuat apapun, bahkan belum selesai dgn diri sendiri.

Saya mengundang Anda utk mendalami keteladanan itu..

***

Sudah pernah baca Leiden dan Extraordinary?

Posted by: deatantyo | December 2, 2016

Dea Tantyo vs Arief Munandar

Saat membersamai guru saya, Dr. Arief Munandar di UI. Beliau sosok yang turut merubah dan membentuk  Dea Tantyo. *Salim

dea-tantyo-vs-arief-munandar

Posted by: deatantyo | December 2, 2016

GARUDA INDONESIA

GARUDA INDONESIA
@DeaTantyo

Hari itu 25 Desember 1949, Bung Karno ditanya, nama apa yg akan disematkan menjadi cikal bakal pesawat pertama Indonesia.

“Ik ben Garuda, Vishnoe’s vogel, die zijn vleugels uitslaat hoog boven uw eilanden.. “Aku adalah Garuda, burung milik Wisnu yang membentangkan sayapnya menjulang tinggi di atas kepulauanmu”.

Ini jawaban si Bung mengutip sebuah sajak gubahan pujangga terkenal, Raden Mas Noto Soeroto di zaman kolonial : Garuda Indonesia Airways.

Maka 28 Desember 1949, menjadi hari paling bersejarah dlm lini republik, dmn utk pertama kalinya sang saka membawa Presiden Soekarno dari Yogyakarta ke Jakarta untuk menghadiri upacara pelantikannya sebagai Presiden RIS. Juga Hatta yg pernah berkeliling sambangi nusantara, berjuang bersama Garuda. Itulah era pertama kali kita merasakan gagahnya menjadi sebuah negara bangsa.

Crescit in Cundo. Selama lebih dr 60 tahun, Garuda Indonesia membersamai Republik. Menembus peluh, menerobos tantangan, mengabarkan pada dunia bahwa Indonesia masih ada.

Dan hari ini, saatnya kita bangkitkan lagi selaksa kebanggaan itu. Saya mengajak Anda utk mendukung Garuda dan mengabarkan pada dunia sekali lagi: Bahwa Indonesia masih ada, dan akan makin tegak berdirinya.

3 minutes to vote Garuda Indonesia
in Skytrax Award 2017 for :
1. “The Best Airline”
Link : bit.ly/GAbestairline
2. “The Best Cabin Crew”
Link : bit.ly/GAbestcabincrew

Hatur nuhun teman-teman.

Posted by: deatantyo | December 2, 2016

CEMBURU

CEMBURU
@DeaTantyo

24 Juli 1981, Jakarta yg sebelumnya jarang hujan, akhirnya merintikan tangisnya. Langit seperti mengerti ada sosok mulia yang hari itu tengah memulai perjalanan abadi. Ribuan rakyat berebut ingin mengusung keranda jenazah. Sepanjang 3 kilo meter iringan kendaraan berjalan tersendat-sendat karena rakyat berjejal penuhi jalan. Duka merambat di jutaan kalbu umat. Buya Hamka nama sosok menyejarah itu. Sejak hidup sampai wafatnya, ia dicintai dan dihormati.

6 Februari 1993, giliran sang sahabat. Hari itu hujan deras guyur Jakarta. Langit seperti berduka menemani tangis kehilangan rakyat. Masjid Al Furkon Kramat tak kuasa nampung 3000 pelayat yg nonstop datang sholati beliau. Gak cuma Indonesia, bahkan kematian beliau memaksa duka pada dunia. Mantan perdana menteri Jepang yang diwakili oleh Nakadjima bahkan ngirim ucapan belasungkawa, “Berita wafat beliau lebih dahsyat dari jatuhnya bom atom di Hiroshima.” Pak Natsir, nama sosok hebat itu. Ia dicintai selagi hidup, dihormati saat wafat.

Pagi ini saya inget-inget lagi kisah itu. Mereka 2 sedjoli- orang-orang yg hidup fakir di alam maddah, tapi kaya di alam ruhani. Tak pernah menikmati gelimang materi, tapi selalu suka cita dlm hidup. Beda kan sama kita, yg tak pernah cukup dgn gaji, plus selalu ngeluh dgn kerjaan.

Gak. Saya gak mau buat dikotomi. Silakan jgn tinggalin bagian dunia kita. Saya hanya menampar diri sendiri bahwa ada di dunia jenis manusia terhormat seperti ini, yg sudah mempersiapkan untuk sabar miskin disini, tapi kaya “disana”. Utk seakan kalah di dunia. Tapi menang di akhirat. InsyaAllah.

Yg bikin kita jiper dan makin ngeliat kecil harga gelar yg kita punya, jabatan manager, start up yg kita bangun, omset bisnis, followers, dll.

Apa kita gak cemburu dgn “kepulangan” seperti ini? Cemburu yg mestinya membuat kita menahan diri untuk tidak lagi menyakiti saudaranya, menyakiti temannya, menyakiti rakyatnya..

Pak Natsir dan Buya Hamka, adalah 2 karib deket yg terkenal berjuang bareng-bareng, saling ngasih surat, saling nyemangatin, bahkan saling sedih-seneng, bareng-bareng. Dari mereka berdua saya belajar.. Agar tak salah cari rekan dlm berjuang, agar tak salah mengambil tempat dimana kita mesti BERPIHAK.

Luruskan kami Yaa Rabb.
Luruskan para pemimpin kami.

Posted by: deatantyo | December 2, 2016

SAYA & KRISTIANI

SAYA DAN KRISTIANI
@DeaTantyo

Namanya Andre. Kalo orang nanya siapa slh satu temen masa kecil paling sohib. Jawabannya ya Andre ini. Beda 4 rumah dr saya. Partner saya di lapangan hijau, kalo saya Cantona, dia Paul Scholesnya. Saya pernah makan di rumah dia, dia pernah makan di rumah saya. Kita deket betul. Sampai ibunya, bapaknya, om dan donald adenya deket dgn saya. Ya, mereka satu keluarga kristen, adapun saya seorg muslim.

Namanya Andi. Yg ini temen kantor beda unit. Kalo kebetulan lg rapat project bareng dan rapatnya kaku, lah kita yg bikin rame (dan tambah cengir2). Bayangin, temen mana yg berani ledek-ledekan di depan situasi formal? Gatau knp saya dan dia klop kalo ketemu. Betul, dia kristen, adapun saya muslim.

Namanya Bu Tina. Di kantor saya dan beliau duet menjaga ketertiban dunia: Saya CEO yg act as koordinator Bus kantor. Beliau purser, yg ngatur ketertiban dlm pesawat. Tipikal ibu yg ringan betul bantu orang. Percaya atau gak, pernah di dlm bus, berjualan buku keliling dr dpn smp belakang. Apa yg dijual? Buku saya. Tanpa diminta dan mengharapkan apa-apa. Siapa yg ga luluh digituin. Tapi yg lbh hebat ini: Di bulan ramadhan, beliau ambil alih hampir sekilo kurma, dan rela ngebungkusin satu per satu buat ta’jil pasukan. Sendirian. Apa agama beliau? kristen, sedang saya seorang muslim

Atau bude jauh saya, dgn putra semata wayang bernama Sammy. Sammy ini my partner in crime masa kecil. Pernah berantem bareng vs anak kampung yg gak terima saat kita menang maen bola. Yg bahagia betul jika kita jumpa. Yg kecewa betul klo saya ga bisa nginep di rumahnya. (Dan smpe hari ini sy blm kesempatan nginep di rumahnya). Gmn Momnya? Sayang betul sm saya. Yg selalu nyiumin Dea kecil tiap jumpa.

Bukankah ini yg disebut ‘persaudaraan?’, bukankah ini makna damai sesungguhnya? Tak ada saling menistakan diantara kita, tak ada saling cemooh kitab agama lain, tak pernah terlintas utk saling menyakiti, tak terpikir utk menyinggung keyakinan ‘saudaranya’… Yg tersisa hanya saling menghormati, bahkan saling menyayangi.

Klo sudah begini bukankah kita kan saling menjaga? Bukankah kau akan merasakan pula keperihan yg akhir-akhir ini sedang dirasakan sesama saudara kita?

Orang tua mana yg rela menyakiti anaknya? Guru teladan mana yg rela memaki muridnya? Pemimpin mana yg rela melukai rakyatnya?

Bukan Al Quran untuk Islam. Bukan Dunia untuk Islam. Tapi Al Quran dan Islam untuk dunia. Sungguh kita rindu perdamaian & hidup berdampingan dgn yang lain.

***
Bukankah temen-temen punya pengalaman indah yg sama?

Older Posts »

Categories