Posted by: deatantyo | December 2, 2016

AHLAN WA SAHLAN (212)

AHLAN WA SAHLAN
2 DESEMBER 2016
@DeaTantyo

Pernah ada satu hari di tengah Republik, sekelompok kecil orang bergerilya turun ke desa masuk ke hutan. Lewatin semua kesulitan. Menembus setiap jalur terjal dan mendaki. Juga bersama rombongan itu 1 laki-laki ringkih dgn kaki kurus ditopang tongkat.

Kelompok yg secara logika, gampang ditaklukan. Tapi sejarah bilang ke kita orang-orang ini yg justru dg gagah jaga Republik. Sampai puncaknya Belanda mengakui kedaulatan RI pada tanggal 27 Desember 1949, dan benar-benar hengkang dari ibu pertiwi.

Tapi laki-laki itu, Pak Dirman namanya, sepertinya memang ditakdirkan hanya untuk berjuang, bukan untuk menikmati kemerdekaan yg telah beliau perjuangkan. Beliau wafat dalam sakit beliau pada tanggal 29 Januari 1950, hanya berselang 1 bulan setelah pengakuan kedaulatan RI.

Sampai tibalah hari ini 2 Desember 2016. Generasi dan anak keturunan Sang Jendral lahir dan mengulang gerilya dgn jumlah berkali lipat.

Dan serupa seperti sang panglima, mereka orang-orang yg merelakan hari-harinya utk membayar masa depan generasi keturunannya. Kita, saya dan Anda mesti wafat pada akhirnya, tapi saya ingin agar Aisha anak saya, dan anak-anak Anda dapat hidup damai saling bersaudara di tanah air tempat lahirnya. TANPA DIJAJAH.

Kita juga berharap, agar anak-anak kita kelak adalah mereka yg lahir beriman, berilmu dan punya akhlak yg santun & beradab.

Persis Surat Pak Gatot Subroto yg dulu dikirim ke Bung Dirman, Panglima Besar sekaligus Jendral paling Jendral itu..

“Meskipun buah-buahnya kita tidak turut memetik, melihat pohonnya subur, kita merasa gembira”

2 Desember 2016
Adalah satu hari yg kita upayakan utk agama, bangsa dan anak-anak kita.

Ahlan Wa Sahlan, wahai para pejuang
#aksi212

Posted by: deatantyo | December 2, 2016

MATEMATIKA HIDUP

 

extraordinary-promo-bundling-compilation

MATEMATIKA HIDUP
@DeaTantyo

What makes man a real man? Pilihan hidup. Great by Choice.

Soekarno dan Hatta, intelektual brilian itu, yg lulus dari kampus bangsawan itu, mestinya bisa hidup tenang dan nyaman. Bekerja pada pemerintah Hindia Belanda. Lalu mapan dlm gelar dan materi.

Haji Agus Salim, orang tua jenius itu, mestinya bisa hidup mewah dan nyaman. Lulusan terbaik HBS se-Hindia Belanda. Memiliki potensi karir sbg intel muda dan konsulat Beland. Dan dikabarkan bergaji 750 gulden, saat keluarga lain hidup dg 12 gulden.

Syafrudin Prawira Negara. Sang Penyelamat Republik. Mestinya bisa hidup mapan dan nyaman. Bertitel sbg menteri keuangan. Bahkan PRESIDEN Darurat Republik Indonesia. Harta dan tahta di depan mata.

Dr. Tjipto Mangunkusumo, mestinya bisa hidup bahagia dan nyaman. Seorang dokter brilian. Dan memiliki banyak peluang membuka rumah praktik. Juga lahir dari keluarga kaya berpendidikan.

Tapi perhitungan hidup tak harus sama. Mereka orang-orang yg seakan keliru dlm matematika. Salah mengkalkulasi bagaimana utk hidup tenang, mewah, mapan, dan bahagia. Tapi selalu sukacita dlm hidup.

Bahwa Soekarno Hatta justru “tenang” dgn hidup dari penjara ke penjara. Dari pengasingan ke pengasingan. Dari percobaan pembunuhan.

Bahwa Haji Agus Salim justru merasa “mewah” dgn hidup melarat, tinggal nomaden dgn rumah yg luasnya tak lebih dr sekamar kosan.

Bahwa Syafrudin Prawiranegara, justru merasa “mapan” dgn menjadi menteri keuangan yg tak punya uang. Dengan istri yg berjualan sukun goreng.

Bahwa Dr. Tjipto, justru “bahagia” dgn hidup yg menjadi tahanan. Dan diserang asma. Dihempas hak hidupnya oleh Belanda. Bahkan wafat sblm menikmati kemerdekaan.

Mereka jenis manusia yg memperlakukan matematika hidup tak hanya utk beasiswa dan gelar akademik, melainkan utk melawan kesewenangan, utk memilih hidup bersama rakyat, dan utk memberi dan memberi. Mereka orang-orang yg membuat cemburu kita yg belum bisa berbuat apapun, bahkan belum selesai dgn diri sendiri.

Saya mengundang Anda utk mendalami keteladanan itu..

*****
Juga seperti kalkulasi HARGA dibawah ini, gagal secara matematik, tujuannya buat memberikan super fare untuk teman-teman. Alhamdulillah sudah ada lagi cetak ulang buku Extraordinary dan Leiden. Berkenan cek ya.

Posted by: deatantyo | December 2, 2016

Dea Tantyo vs Arief Munandar

Saat membersamai guru saya, Dr. Arief Munandar di UI. Beliau sosok yang turut merubah dan membentuk  Dea Tantyo. *Salim

dea-tantyo-vs-arief-munandar

Posted by: deatantyo | December 2, 2016

BANDUNG

BANDUNG
@DeaTantyo

Menyusuri suatu tempat dimana Bung Karno, Bung Hatta, Bung Tjipto pernah berjuang dan dihempaskan, berkorban dan dipatahkan. Tapi cinta tak pernah dikalahkan.

Inilah kota yang mencintai kita dan kita mencintainya. InsyaAllah, Ahad, 27 Nopember 2017.

bandung

Posted by: deatantyo | December 2, 2016

GARUDA INDONESIA

GARUDA INDONESIA
@DeaTantyo

Hari itu 25 Desember 1949, Bung Karno ditanya, nama apa yg akan disematkan menjadi cikal bakal pesawat pertama Indonesia.

“Ik ben Garuda, Vishnoe’s vogel, die zijn vleugels uitslaat hoog boven uw eilanden.. “Aku adalah Garuda, burung milik Wisnu yang membentangkan sayapnya menjulang tinggi di atas kepulauanmu”.

Ini jawaban si Bung mengutip sebuah sajak gubahan pujangga terkenal, Raden Mas Noto Soeroto di zaman kolonial : Garuda Indonesia Airways.

Maka 28 Desember 1949, menjadi hari paling bersejarah dlm lini republik, dmn utk pertama kalinya sang saka membawa Presiden Soekarno dari Yogyakarta ke Jakarta untuk menghadiri upacara pelantikannya sebagai Presiden RIS. Juga Hatta yg pernah berkeliling sambangi nusantara, berjuang bersama Garuda. Itulah era pertama kali kita merasakan gagahnya menjadi sebuah negara bangsa.

Crescit in Cundo. Selama lebih dr 60 tahun, Garuda Indonesia membersamai Republik. Menembus peluh, menerobos tantangan, mengabarkan pada dunia bahwa Indonesia masih ada.

Dan hari ini, saatnya kita bangkitkan lagi selaksa kebanggaan itu. Saya mengajak Anda utk mendukung Garuda dan mengabarkan pada dunia sekali lagi: Bahwa Indonesia masih ada, dan akan makin tegak berdirinya.

3 minutes to vote Garuda Indonesia
in Skytrax Award 2017 for :
1. “The Best Airline”
Link : bit.ly/GAbestairline
2. “The Best Cabin Crew”
Link : bit.ly/GAbestcabincrew

Hatur nuhun teman-teman.

Posted by: deatantyo | December 2, 2016

OUWE HEER

OUWE HEER
@DeaTantyo

Seperti Roem, seperti Kasman, seperti Soeparno, yang tak pernah bosan untuk belajar. Menyambangi rumah sang guru. Menyusuri Gang Kecil dan becek di Tanah Tinggi, Batavia.

“Rumahnya rumah kampung, dengan meja kursi sangat sederhana. Lain dari yang saya duga dari orang yang sudah terkenal lewat obrolan, surat kabar dan tulisan-tulisannya.”

Hari-hari itu terjadi di 1925. Saat anak-anak muda tak bosan menggali ilmu dan melapangkan sejarah.

“Dan kemarin saya katakan, jalan pemimpin bukan jalan yang mudah. Memimpin adalah menderita.”

Nama sang Guru:
Ouwe Heer.. Patjee Haji Agus Salim. Yang selalu gagah dalam keterbatasannya. Yang selalu berdiri dengan kepala tegak bagaimanapun kondisi memukul-mukul hidup.

Dan anak-anak muda itu, adalah anak-anak sejarah. Anak-anak muda yg telah memberi nilai eksklusif pada Republik.

***
Kami, mengundang rekan-rekan sekalian.

ui

Posted by: deatantyo | December 2, 2016

Review Extraordinary – Irkham Maulana

Diperkenalkan dengan Bapak Sendiri

By Irkham Maulana

Judul Buku : Extraordinary
Penulis : Dea Tantyo Iskandar
Penerbit : Duta Media Tama
Tebal buku : x + 314
Terbit : Pertama, Oktober 2016
ISBN : 9786026016508

Kita sering terkagum-kagum dengan orang hebat yang diwartakan di berita-berita, tapi kita lupa bahwa semenjak kecil ada orang hebat yang selalu menggenggam tangan kita. Ia menyediakan rumah, tanah dan kebebasan untuk kita berkembang melalui perjuangan mereka yang berdarah-darah. Mereka itu adalah orang hebat, dan orang hebat itu adalah bapak kita sendiri.

Begitulah yang ingin disampaikan Dea Tantyo dalam buku seri kedua Leadership Talk berjudul Extraordinary ini. Dea Tantyo ingin memperkenalkan para bapak bangsa kita sendiri yang telah berjuang penuh peluh dan darah untuk menghadiahkan kemerdekaan kepada kita, anak-anak mereka.

Buku yang hadir setelah seri pertama berjudul Leiden ini menyuguhkan dan menghadirkan kembali ke dalam ruang baca kita sosok-sosok dan keteladanan para founding father bangsa. Kita sedang mencari negarawan; pemimpin teladan yang rela merancang peta negara di atas prahara sejarah manusianya. Bukan malaikat. Hanya manusia biasa yang tela menggantungkan cita-cita bangsa di langit pemikirannya. Mungkin gambaran itu bisa kita telusuri dari sini. Dari sejarah perjuangan kemerdekaan. (hlm. 10).

Kita dikenalkan dengan kegigihan dan kepiawaian orasi ala Soekarno, ketenangan dan bagaimana kutu-bukunya seorang Mohammad Hatta, Kecerdasan milik “The Grand Old Man” H. Agus Salim, Kejujuran dari seorang polisi yang tak bisa disuap, Polisi Hoegeng dan solidaritas dari tiga serangkai yang dipenjara lantaran mengkritik Belanda melalui pena tajamnya kala itu.

Buku ini mengajak kita untuk melihat dari sisi positif para pendahulu-pendahulu kita. Bahwa setiap pemimpin punya kekurangan, itu benar. Seorang pemimpin bukan makhluk mitologis bersayap, yang turun dari langit membawa pednag dan menuntaskan semua masalah, lalu terbang kembali menuju langit. Bagaimanapun selalu ada sisi positif yang bisa kita lihat (hlm. 55).

Kita mengerti benar bagaimana setiap pidato Bung Karno begitu bersemangat dan berkobar-kobar. Hal itu tidak didapatkan secara instan seperti merebus mie yang siap unuk dimakan. Soekarno kecil berlatih orasi tiap malam. Memandangi cermin, naik ke atas meja di kosannya hingga teriak-teriak tengah malam, hingga sering kawan dan ibu kostnya merasa terganggu. Mereka terheran-heran dengan teriakan Soekarno tiap malam. Namun hasilnya? Practice makes perfect.

The difference between ordinary and extraordinary is that little “extra” (hlm. 136) dan mereka yang berjuang untuk merebut kemerdekaan telah melakukannya.

Dalam buku ini jelas digambarkan bahwa pemimpin itu bukanlah posisi atau jabatan melainkan pengaruh dan kebermanfaatan. Pemimpin bukanlah mereka yang berada di atas, melainkan berada di tengah-tengah yang dipimpinnya. Ia telah selesai dengan urusannya sendiri, sehingga mampu maksimal untuk menyelesaikan persoalan masyarakat. Para pemimpin jelas dituntut untuk berprestasi sekaligus memberi. Setiap orang bisa berprestasi. Namun tidak semua orang bisa memberi. Karya terbesar bukanlah atas apa yang didapatkan. Melainkan apa yang telah kita berikan (hlm. 156)

Disuguhkan dengan runut dan diselingi sosok-sosok tokoh dunia menjadikan buku ini seperti melihat buku album tokoh-tokoh tanpa harus melalui sketsa rupa.

Extraordinary ini juga bukanlah sebuah kitab suci yang turun dari langit tanpa cela. Seri kedua ini memang disajikan lebih runtut daripada seri pertama yang berjudul Leiden. Namun, bagi yang telah membaca buku Leiden sebelumnya, buku Extraordinary ini beberapa kisah yang dihadirkan sama dengan buku pertama. Seolah-olah Dea Tantyo ingin meminta pembaca mengulang kenangan-kenangan untuk bisa diambil pelajaran dari para Founding Father bangsa.

Pada akhirnya, seperti yang disampaikan Bung Karno saat berorasi di tengah lautan manusia di Lapangan Ikada. “Sesudah kita merdeka, tidak waktunya lagi untuk berbicara banyak, tapi untuk berbuat banyak” (hlm. 154).

Posted by: deatantyo | December 2, 2016

CEMBURU

CEMBURU
@DeaTantyo

24 Juli 1981, Jakarta yg sebelumnya jarang hujan, akhirnya merintikan tangisnya. Langit seperti mengerti ada sosok mulia yang hari itu tengah memulai perjalanan abadi. Ribuan rakyat berebut ingin mengusung keranda jenazah. Sepanjang 3 kilo meter iringan kendaraan berjalan tersendat-sendat karena rakyat berjejal penuhi jalan. Duka merambat di jutaan kalbu umat. Buya Hamka nama sosok menyejarah itu. Sejak hidup sampai wafatnya, ia dicintai dan dihormati.

6 Februari 1993, giliran sang sahabat. Hari itu hujan deras guyur Jakarta. Langit seperti berduka menemani tangis kehilangan rakyat. Masjid Al Furkon Kramat tak kuasa nampung 3000 pelayat yg nonstop datang sholati beliau. Gak cuma Indonesia, bahkan kematian beliau memaksa duka pada dunia. Mantan perdana menteri Jepang yang diwakili oleh Nakadjima bahkan ngirim ucapan belasungkawa, “Berita wafat beliau lebih dahsyat dari jatuhnya bom atom di Hiroshima.” Pak Natsir, nama sosok hebat itu. Ia dicintai selagi hidup, dihormati saat wafat.

Pagi ini saya inget-inget lagi kisah itu. Mereka 2 sedjoli- orang-orang yg hidup fakir di alam maddah, tapi kaya di alam ruhani. Tak pernah menikmati gelimang materi, tapi selalu suka cita dlm hidup. Beda kan sama kita, yg tak pernah cukup dgn gaji, plus selalu ngeluh dgn kerjaan.

Gak. Saya gak mau buat dikotomi. Silakan jgn tinggalin bagian dunia kita. Saya hanya menampar diri sendiri bahwa ada di dunia jenis manusia terhormat seperti ini, yg sudah mempersiapkan untuk sabar miskin disini, tapi kaya “disana”. Utk seakan kalah di dunia. Tapi menang di akhirat. InsyaAllah.

Yg bikin kita jiper dan makin ngeliat kecil harga gelar yg kita punya, jabatan manager, start up yg kita bangun, omset bisnis, followers, dll.

Apa kita gak cemburu dgn “kepulangan” seperti ini? Cemburu yg mestinya membuat kita menahan diri untuk tidak lagi menyakiti saudaranya, menyakiti temannya, menyakiti rakyatnya..

Pak Natsir dan Buya Hamka, adalah 2 karib deket yg terkenal berjuang bareng-bareng, saling ngasih surat, saling nyemangatin, bahkan saling sedih-seneng, bareng-bareng. Dari mereka berdua saya belajar.. Agar tak salah cari rekan dlm berjuang, agar tak salah mengambil tempat dimana kita mesti BERPIHAK.

Luruskan kami Yaa Rabb.
Luruskan para pemimpin kami.

Posted by: deatantyo | December 2, 2016

SAYA & KRISTIANI

SAYA DAN KRISTIANI
@DeaTantyo

Namanya Andre. Kalo orang nanya siapa slh satu temen masa kecil paling sohib. Jawabannya ya Andre ini. Beda 4 rumah dr saya. Partner saya di lapangan hijau, kalo saya Cantona, dia Paul Scholesnya. Saya pernah makan di rumah dia, dia pernah makan di rumah saya. Kita deket betul. Sampai ibunya, bapaknya, om dan donald adenya deket dgn saya. Ya, mereka satu keluarga kristen, adapun saya seorg muslim.

Namanya Andi. Yg ini temen kantor beda unit. Kalo kebetulan lg rapat project bareng dan rapatnya kaku, lah kita yg bikin rame (dan tambah cengir2). Bayangin, temen mana yg berani ledek-ledekan di depan situasi formal? Gatau knp saya dan dia klop kalo ketemu. Betul, dia kristen, adapun saya muslim.

Namanya Bu Tina. Di kantor saya dan beliau duet menjaga ketertiban dunia: Saya CEO yg act as koordinator Bus kantor. Beliau purser, yg ngatur ketertiban dlm pesawat. Tipikal ibu yg ringan betul bantu orang. Percaya atau gak, pernah di dlm bus, berjualan buku keliling dr dpn smp belakang. Apa yg dijual? Buku saya. Tanpa diminta dan mengharapkan apa-apa. Siapa yg ga luluh digituin. Tapi yg lbh hebat ini: Di bulan ramadhan, beliau ambil alih hampir sekilo kurma, dan rela ngebungkusin satu per satu buat ta’jil pasukan. Sendirian. Apa agama beliau? kristen, sedang saya seorang muslim

Atau bude jauh saya, dgn putra semata wayang bernama Sammy. Sammy ini my partner in crime masa kecil. Pernah berantem bareng vs anak kampung yg gak terima saat kita menang maen bola. Yg bahagia betul jika kita jumpa. Yg kecewa betul klo saya ga bisa nginep di rumahnya. (Dan smpe hari ini sy blm kesempatan nginep di rumahnya). Gmn Momnya? Sayang betul sm saya. Yg selalu nyiumin Dea kecil tiap jumpa.

Bukankah ini yg disebut ‘persaudaraan?’, bukankah ini makna damai sesungguhnya? Tak ada saling menistakan diantara kita, tak ada saling cemooh kitab agama lain, tak pernah terlintas utk saling menyakiti, tak terpikir utk menyinggung keyakinan ‘saudaranya’… Yg tersisa hanya saling menghormati, bahkan saling menyayangi.

Klo sudah begini bukankah kita kan saling menjaga? Bukankah kau akan merasakan pula keperihan yg akhir-akhir ini sedang dirasakan sesama saudara kita?

Orang tua mana yg rela menyakiti anaknya? Guru teladan mana yg rela memaki muridnya? Pemimpin mana yg rela melukai rakyatnya?

Bukan Al Quran untuk Islam. Bukan Dunia untuk Islam. Tapi Al Quran dan Islam untuk dunia. Sungguh kita rindu perdamaian & hidup berdampingan dgn yang lain.

***
Bukankah temen-temen punya pengalaman indah yg sama?

Posted by: deatantyo | December 2, 2016

MUNDUR SEBELUM RAKYAT

MUNDUR SEBELUM RAKYAT..
@DeaTantyo

Catet, banyak pemimpin yang MUNDUR dari jabatan bukan cuma karena ngelanggar hukum, tapi juga karena GAK KOMPETEN atau GAK BISA SANTUN saat mimpin publik.

Presiden Jerman, Christian Wuff MUNDUR dari jabatan hanya karena ketahuan menerima fasilitas saat meminjam uang di bank untuk menyicil rumah. Tak perlu menanti putusan bersalah pengadilan, ia langsung mundur. Tanpa paksaan.

Perdana Menteri Yunani George Papandreou MUNDUR akibat rasa malu karena tidak mampu mengatasi krisis berkepanjangan.

Menteri Tenaga Kerja Korea Selatan MUNDUR hanya karena kedapatan bermain golf saat terjadi pemogokan buruh. Tak perlu menunggu jemputan paksa, ia mundur tanpa tedeng aling-aling.

Perdana Menteri Jepang, Naoto Kan, MUNDUR saat merasa gagal merecovery Jepang pasca Tsunami.

Masih kurang?

2 Juni 2010, Yukio Hatoyama, pejabat Jepang MUNDUR karena “merasa tak enak” setelah kebijakannya mempertahankan pangkalan Militer AS di Okinawa.

12 September 2011, Yashio Hachiro Menteri Industri Jepang MUNDUR karena salah bicara menyebut “kota kematian” pasca Tsunami Jepang.

9 Februari 2011, Kepala Parlemen Korea Selatan, Park Hee Tae MUNDUR setelah ada anggota yg menyebutnya menerima sogokan saat pemilihan ketua partai.

27 September 2011, giliran Menteri Ekonomi Pengetahuan Korea Selatan Choi Joong Kyung MUNDUR karena malu akibat mati listrik massal di beberapa kota.

31 Mei 2010, Presiden Jerman Horst Koehler memilih mundur akibat gencarnya kritik setelah menyampaikan pernyataan tentang misi tentara Bundeswehr.

26 Oktober 2011, demi memulihkan martabat, Menteri Olahraga Brasil Orlando Silva mengundurkan diri saat baru diduga korupsi dana promosi olahraga.

*******
Sebuah catatan utk sebuah negeri yg presidennya pejabat partai, dan dikendaliin sama ketua partai..

Sebuah catatan utk sebuah kota, yang gubernurnya sewenang-wenang, keganjel dugaan korupsi, dan mulutnya ga bisa dijaga..

Sebuah catatan buat PRESIDEN dan GUBERNUR: bahwa kemampuan mengoreksi diri mestinya datang dari dalam, SEBELUM RAKYAT MENGOREKSI DARI LUAR.

Older Posts »

Categories