Posted by: deatantyo | December 2, 2016

CEMBURU

CEMBURU
@DeaTantyo

24 Juli 1981, Jakarta yg sebelumnya jarang hujan, akhirnya merintikan tangisnya. Langit seperti mengerti ada sosok mulia yang hari itu tengah memulai perjalanan abadi. Ribuan rakyat berebut ingin mengusung keranda jenazah. Sepanjang 3 kilo meter iringan kendaraan berjalan tersendat-sendat karena rakyat berjejal penuhi jalan. Duka merambat di jutaan kalbu umat. Buya Hamka nama sosok menyejarah itu. Sejak hidup sampai wafatnya, ia dicintai dan dihormati.

6 Februari 1993, giliran sang sahabat. Hari itu hujan deras guyur Jakarta. Langit seperti berduka menemani tangis kehilangan rakyat. Masjid Al Furkon Kramat tak kuasa nampung 3000 pelayat yg nonstop datang sholati beliau. Gak cuma Indonesia, bahkan kematian beliau memaksa duka pada dunia. Mantan perdana menteri Jepang yang diwakili oleh Nakadjima bahkan ngirim ucapan belasungkawa, “Berita wafat beliau lebih dahsyat dari jatuhnya bom atom di Hiroshima.” Pak Natsir, nama sosok hebat itu. Ia dicintai selagi hidup, dihormati saat wafat.

Pagi ini saya inget-inget lagi kisah itu. Mereka 2 sedjoli- orang-orang yg hidup fakir di alam maddah, tapi kaya di alam ruhani. Tak pernah menikmati gelimang materi, tapi selalu suka cita dlm hidup. Beda kan sama kita, yg tak pernah cukup dgn gaji, plus selalu ngeluh dgn kerjaan.

Gak. Saya gak mau buat dikotomi. Silakan jgn tinggalin bagian dunia kita. Saya hanya menampar diri sendiri bahwa ada di dunia jenis manusia terhormat seperti ini, yg sudah mempersiapkan untuk sabar miskin disini, tapi kaya “disana”. Utk seakan kalah di dunia. Tapi menang di akhirat. InsyaAllah.

Yg bikin kita jiper dan makin ngeliat kecil harga gelar yg kita punya, jabatan manager, start up yg kita bangun, omset bisnis, followers, dll.

Apa kita gak cemburu dgn “kepulangan” seperti ini? Cemburu yg mestinya membuat kita menahan diri untuk tidak lagi menyakiti saudaranya, menyakiti temannya, menyakiti rakyatnya..

Pak Natsir dan Buya Hamka, adalah 2 karib deket yg terkenal berjuang bareng-bareng, saling ngasih surat, saling nyemangatin, bahkan saling sedih-seneng, bareng-bareng. Dari mereka berdua saya belajar.. Agar tak salah cari rekan dlm berjuang, agar tak salah mengambil tempat dimana kita mesti BERPIHAK.

Luruskan kami Yaa Rabb.
Luruskan para pemimpin kami.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: