Posted by: deatantyo | April 19, 2016

PEMBERANI

(I) Hari itu, 15 Juli 1960, John F. Kennedy berpidato di depan rakyat Amerika. Seperti biasa, pidatonya menggetarkan.

“Di seluruh dunia, orang-orang muda telah tampil, mereka bertekad membangun dunia yang kuat. Perbatasan Baru telah hadir.” Pidato JFK ditujukan kepada para penantang masa depan: anak-anak muda. Ia mengajak para pemimpin muda untuk berpaling dari era melenakan 1950-an.

“Saya menghimbau Anda sekalian untuk menjadi pionir yang melintasi Perbatasan Baru itu. Bisakah Anda bertahan? Punyakah Anda nyali dan tekad untuk membuktikannya?”

Pidato tersebut segera disambut riuh hadirin seantero. “New Frontier” menjadi Pidato yg dikenang oleh sejarah. Membawa JFK muda ke kursi Presiden Amerika ke-35, pada 1961-1963.

(II) Jauh sebelum Kennedy, pidato yang jauh lebih memukau pernah disampaikan seorang anak muda, usianya saat itu masih sekitar 29 tahun. Soekarno namanya.

Saat itu 1930. Bung Karno bicara lantang dihadapan pengadilan Belanda. Pidatonya INDONESIA MENGGUGAT menjadi mesiu yang meletupkan kemerdekaan Indonesia.

“Maka rakyat kami dibuat rakyat yang hidup kecil & nrimo, rendah pengetahuanya, lembek kemauannya, sedikit hasratnya, padam kegagahannya.”

“Kami,” ujar Bung Karno “mencoba memberantas penyakit ini. Kami mencoba membangkit-bangkitkan kemauan rakyat dan menyalakan lebih banyak hasrat-hasrat di dalam kalbu rakyat.”

Dan Blast! Pidato Si Bung meledakan seisi ruangan. Membakar jiwa para pejuang untuk menabuh perlawanan. Maka usai 300 tahun penjajahan, nyali yang tercecer disatupadukan. Soekarno, Hatta, Sjahrir dan berderet pejuang lainnya berhasil membangunkan kembali bangsa besar yang sempat tertidur ini

(III) Ada banyak pemberani yang menjadi penopang dalam sejarah. Dalam konteks yg lebih luas, ia tak harus selalu tampil silau. Bisa jadi ia serupa Pak Natsir dgn jas bertambal. Atau Haji Agus Salim dgn Kopiah yg kian lusuh.

Seorang pejuang juga tak mesti diantar dgn mobil mentereng. Bisa jadi ia Pak Kasman atau Pak Roem yg kian kemari dgn sepeda sambangi rumah gurunya.

Dan hari itu, ada sejarah kecil menyambangi kampus kami Padjadjaran. Sosok sederhana, low profile, tampil dgn gesture apa adanya.. muncul kepermukaan. Tatap matanya tak setajam Lincoln. Orasinya tak seriuh Tjokroaminoto. Bukan Politisi. Bukan Aristokrat.. Hanya Markus Cicero yg memulai pertarungan dgn bekal apa adanya melawan para tokoh raksasa yg punya nama besar di Romawi.

Lawannya orang besar. Mungkin ia diremehkan. Tapi perhitungan suara IKA Unpad mencatatkan score tertinggi untuk beliau.

Betul. Namanya Kang Hikmat Kurnia. Gulungan dukungan memihak padanya, sebagaimana sejarah memihak para pemberani.

Maju terus, Kang. We stand by your side!

Takzim,
Dea Tantyo


Responses

  1. info dan cerita yang menarik kak.. terius lanjutkan terimakasih


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: