Posted by: deatantyo | October 8, 2015

“Membungkus Doa dengan Kerja Keras”

Mengenal alumni Rumah Kepemimpinan lebih dekat
By : Rumah Kepemimpinan, PPSDMS

Be Better everyday. Begitulah seorang Dea Tantyo Iskandar menggambarkan betapa pentingnya menjadi lebih baik setiap hari.Dea Tantyo adalah alumni Rumah Kepemimpinan Regional 2 Bandung angkatan IV. Bercerita tentang Dea Tantyo maka kita akan menikmati sentuhan pribadi yang aktif, hangat, dan simpatik. Tak hanya pribadinya yang menarik, prestasi, kontribusi dan karya-karyanya patut kita jadikan inspirasi.

Dea Tantyo Iskandar Lahir di Jakarta pada tanggal 9 April 1998. Masa sekolahnya sampai SMAdia lalui diIbukota. Menginjak masa kuliah, Dea hijrah ke Bandung untuk melanjutkan studinya di Fakultas Ekonomi, Universitas Padjajaran. Memasuki bangku perkuliahan,banyak aktivitasnya diisi dengan berbagai kegiatan.

Di masa mahasiswa, Dea aktif dalam berbagai organisasi kampus. Tahun 2007-2008, Dea bergabung dengan Badan Eksekutif Mahasiswa sekaligus menjadi Kepala Departemen Syiar Persaudaraan Mahasiswa FE UNPAD. Tahun berikutnya dia diamanahi Kepala Komite Sosial dan Politik BadanPerwakilan Mahasiswa FE UNPAD. Tak lama setelah itu di tahun 2009-2010 dia menjadi Ketua Badan perwakilan Mahasiswa Fakultas Ekonomi UNPAD. Selanjutnya, prestasi dan kontribusinya dalam bidang organisasi menjadikan dia dipercaya untuk menjadi Kepala Badan Perwakilan Mahasiswa UNPAD tahun 2010-2011.

Organisasi boleh total, tetapi akademik tak boleh kehilangan taringnya. Di tengah kesibukan mengemban amanah organisasi, beberapa kali IPK di tiap semesternyadicapai dengan predikat cumlaude. Dalam bidang softskill, di tahun 2010, Dea menyabet juara favorit kompetisi public speaking, Carrier Development UNPAD. Masih di tahun yang sama Dea sempat meraih predikat peserta terbaik Rumah Kepemimpinan Regional 2 Bandung Januari 2010. Hobinya menulis juga membuahkan beberapa prestasi, yakni dengan dimuatnya beberapa artikel di pada beberapa media massa nasional. Tak hanya menulis, hobinya pada aktivitas sosial dan olahraga menjadikannya beberapa kali sebagai Juara kompetisi Atletik, Futsal maupunCommunity Development antar universitas di tingkat Nasional.

Berbagai prestasi dalam organisasi dan kompetisi yang berhasil Dea raih tidak lepas dari peran pembinaan Rumah Kepemimpinan. Baginya Rumah Kepemimpinan memberikan banyak sekali inspirasi dan bekal utama dalam mengembangkan diri. Menurutnya kerja keras adalah modal utama untuk meraih sukses. Dea meyakini bahwa garis hidup ini berlaku dan terjadi bagi setiap orang: Bahwa setiap kita cepat atau lambat pasti akan merasakan lelahnya bekerja keras, hanya yang membedakan adalah apakah kita akan bekerja keras di waktu muda dan menuainya di saat tua. Atau kita akan bersantai-santai saat muda kemudian berlelah-lelah dan bekerja keras saat tua.Banyak dari kita ingin sukses tapi tak ingin berusaha. Banyak yang ingin berusaha tapi tak rela untuk berjuang. Banyak yang ingin berjuang tapi tak sudi untuk berkorban. Ya, banyak dari kita yang ingin menikmati manisnya sukses, tapi tak mau merasakan pahitnya proses, pahitnya perjuangan, serta pahitnya pengorbanan. “Sukses adalah 10% bakat dan 90% kerja keras,” ujarnya.

Pada masa memasuki dunia pasca kampus, di paruh akhir masa studi S1 nya sebelum menyelesaikan tugas akhir, Dea telah berhasil lolos seleksi dan diterima bekerja di PT. Garuda Indonesia, Tbk. sebagai MarketingAnalyst di unit Marketing Research. Pencapaian itu seakan membuktikan bahwa tak ada dikotomi antara sibuknya berorganisasi dan akademik dengan kesempatan berkarir. Siapa yang sukses dibidang organisasi, harus juga sukses dibidang akademik, juga pasca kampus.

Di tahun 2014 lalu,bertepatan dengan tahun pemilihan umum, Dea kembali menorehkan prestasi lain denganberhasil menerbitkan sebuah buku inspiratif berjudul LEIDEN,sebuah buku yang mengisahkan banyak teladan kepemimpinan dari para founding fathers Indonesia serta banyak tokoh dunia.LEIDEN sendiri diambil dari istilah kuno Belanda “Leiden is Lijden”, yang dalam bahasa Indonesia berarti “memimpin itu siap mengambil jalan menderita”. Dalam buku tersebut, Dea memberikan inspirasi bahwa setiap kita, mau tidak mau, terlibat dalam tanggung jawab kepemimpinan. Maka suka tidak suka, setiap individu harus mempersiapkan dan terus meningkatkan kapasitas kepemimpinannya. Dan terpenting, pemimpin yang baik harus rela untuk berkorban.

Menariknya, buku kepemimpinan yang awalnya ditulis sebagai catatan pribadi itu, ternyata mendapat tanggapan positif dari ketua DPR RI, Pak Marzuki Ali, juga mantan Rektor Univ. Paramadina, Bpk. Anies Baswedan.Dan tak disangkabuku bercover putih dengan sketsa wajah Soekarno, Agus Salim dan Mahatma Ghandi itu sukses terjual ribuan eksemplar dan telah mengalami dua kali cetak ulang.

Last but not least, pribadinya yang hangat, simpatik dan pekerja keras itu- dengan prestasinya melahirkan karya buku di tengah kesibukan berkarir, menjadikan dirinyamasuk sebagai Inspiring PeoplediGaruda Indonesia dan termuat pada portal resmi corporate GA. Benar kata pepatah Arab, Man Jadda Wa jada. Siapa yang bersungguh sungguh, niscaya dia akan dapat. Kehidupan adalah kesempatan yang diberikan Allah untuk menciptakan skenario yang bisa kita banggakan dikemudian hari. Dari Dea Tantyo kita belajar bahwa dengan doa dan kerja keras, siapapun bisa memperoleh apa yang ia cita-citakan. Proficiat!


Responses

  1. sukses kade!~


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: