Posted by: deatantyo | December 2, 2016

KUTU BUKU

KUTU BUKU
@DeaTantyo

Buku itu ajaib. Kata pepatah, “A Library is a hospital for the mind.” Reading improves the mind, like a hospital improves the body.

Mahatma Gandhi, pahlawan India itu juga ‘kutu buku’. Usia 18 tahun, saat sekolah di Southampton, beliau telah membaca banyak buku dan kitab suci.

Albert Einstein juga seorang kutu buku. Walau awalnya Einstein kecil dikenal sebagai anak yang introvert dan lambat berpikir, tapi ketekunan membaca buku membuat dirinya menjadi manusia paling jenius. Semua pun sepakat, Einstein merupakan ilmuwan terhebat abad ke-20.

Napoleon pemimpin legendaris asal Perancis itu juga seorang ‘kutu buku’. Ia melahap banyak buku, mulai dari politik hingga geografi; militer hingga agama. Ia membaca Caesar, Homer, Plato hingga Rousseau.

Bill Gates, bos Microsoft itu juga seorang ‘kutu buku’. Bahkan di usia 10 tahun ia telah membaca habis World Book Encylopedia seri pertama hingga terakhir. Sang ayah memang gemar menyediakan banyak bacaan untuk Gates kecil. Apapun buku yang diminta, sang ayah nyediain.

Tan Malaka juga Kutu Buku. Koleksi bukunya banyak bukan main. Wajar kalo bapak satu ini menjadi salah satu orang paling hebat di Indonesia. Kebiasaan Tan Malaka mengkonsumsi buku mirip komitmen Desiderus Erasmus, “When I get a little money I buy books. When any is left I buy food and clothes.” Tan seringkali memilih buku dibanding makanan.

Haji Agus Salim ‘The Grand Old Man’ itu juga seorang ‘kutu buku’. Menulis dan melahap banyak buku asing. Menguasai 9 bahasa. Punya anak-anak yang cerdas tanpa sekolah. Pak Haji Agus Salim pernah bilang, “Letakan buku di setiap sudut rumahmu. Jadikan buku sesuatu yang sering dilihat dan mudah diraih.”

Buya Hamka, Lentera dari ranah Minang itu juga seorang ‘kutu buku’. Sejak usia 10 tahun, ia hobi membaca di perpustakaan sekolahnya. Buya Hamka melahap banyak buku, mulai dari karya pujangga Arab hingga Eropa; dari Haekal hingga Tonybee, Marx, Sartre, Freud, dan Albert Camus.

Alhasil beliau menjadi tokoh dengan multipredikat; ulama, aktvis sekaligus merangkap sastrawan besar. Bahkan, ia dianugrahi dua gelar kehormatan sekaligus: tahun 1958 honoris causa dari Universitas Al Azhar Cairo serta tahun 1974 honoris causa dari Malaysia. How come? Beliau otodidak membaca buku. Mumtaz!

Thinking is not driven by speaking, but by reading. Beautifull mind lahir dari proses membaca. Semakin banyak seseorang membaca, semakin powerfull ia berpikir; lebih positif, lebih bijak, lebih tajam. You are what you read!

Dengan membaca, kata Descartes, kita bisa mengenal dan berbincang dengan para cendikiawan cemerlang masa lampau.

Dan dgn membaca pula, kata Dea Tantyo *sopo pula iki 😀, kita bisa travelling pindah ruang. Bisa jalan-jalan lintas waktu. Tanpa tiket pesawat. Tanpa voucher traveloka. Hehe

Sumber:
Buku corat-coret Extraordinary, hlm.101
( Pencitraan:D )


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: