Posted by: deatantyo | October 5, 2014

Review Leiden – Mohammad Ferandy

Kepemimpinan Kini Ada Ekstraknya

“Saya bisa melihat lebih jauh karena saya berdiri di atas pundak para raksasa,” kata Isaac Newton dalam suratnya. Bisa dibilang Newton merevolusi pemikiran dunia. Dunia Eropa sebelum Newton banyak terkungkung oleh takhayul dan dogma. Banyak ketakutan tak berdasar.

Hukum Newton—yang bisa jadi banyak anak SMA yang sebal dengan penggunaannya yang ribet—membebaskan dunia hingga bisa bereksplorasi dalam sains. Hasil pemikiran Newton membuat perkembangan pola pikir manusia dan juga teknologi berkembang jauh lebih cepat. Tak heran kalau Newton dinobatkan oleh Michael Hart sebagai orang paling berpengaruh nomor 2 di dunia.

Rahasia Newton tertuang dalam surat yang ia kirim ke Robert Hooke, bahwa ia berdiri di atas pundak para raksasa. Descartes, Galileo, merekalah sebagian raksasa yang Newton maksud. Ilmuwan yang berkarya jauh sebelumnya. Newton mengambil ekstrak pemikiran para raksasa ini hingga bisa mencatatkan namanya di sejarah.

Berdiri di atas pundak raksasa. Hal itulah yang saya rasakan ketika membaca Leiden karya Dea Tantyo. Jika Newton mengambil ekstrak pengetahuan dari pendahulunya, Dea mengambil ekstrak kepemimpinan dan menuangkannya dalam Leiden.

“Leiden is Lijden. Memimpin adalah mengambil risiko hidup tak nyaman,” tulis Dea dalam Leiden . Buku Leiden menuangkan ekstrak kepemimpinan lewat kisah para raksasa generasi sebelumnya. Leiden membawa saya ke kehidupan para raksasa.

Mulai dari Agus Salim—orang yang dijuluki The Grand Old Man oleh Soekarno—yang menekuk lutut kompeni Belanda berkali-kali dengan kecerdasan dan keberaniannya. Handry Satriago yang melawan penyakit yang membuatnya lumpuh hingga bisa memimpin General Electric Indonesia. Cicero, orang dari kalangan biasa dengan latar belakang biasa namun bisa memimpin Romawi. Hingga kisah Arsenal yang bangkit menang setelah dihajar 0-4, membalikkannya menjadi 7-5.

Kisah. Leiden mengambil ekstrak kepemimpinan dari kisah-kisah. Membaca Leiden membuat saya memahami perkataan Soekarno. “Aku meneguk semua cerita ini. Kualami kehidupan mereka. Aku sebenarnya adalah Voltaire. Aku adalah Danton pejuang besar Revolusi Perancis. Seribu kali aku menyelamatkan Perancis seorang diri dalam kamarku yang gelap. Aku menjadi tersangkut secara emosional dengan negarawan-negarawan ini,” kata Soekarno ketika menjelaskan bagaimana ia membaca buku.

Leiden berguna untuk merefleksikan niat dan langkah yang telah kita ambil. Saripati para pemimpin yang dituangkan dalam Leiden berguna untuk mengambil langkah kecil berikutnya. Ya, kini kepemimpinan ada ekstraknya. Ekstraknya ada di Leiden.

– See more at: http://mferandy.blogspot.com/2014/07/kepemimpinan-kini-ada-ekstraknya.html#sthash.wG9O7GLZ.dpuf


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: