Posted by: deatantyo | November 18, 2011

You are the Enemy!

Kata-kata yg terlontar siang itu, masih terngiang dalam benak saya.

“Tak ada musuh atau enemy disini,” begitu ujar Anies Baswedan mengingatkan, “yang ada adalah lawan, opponent.”

Kalimat itu sederhana tapi terasa bernas.

“Musuh” seringkali akan saling mengalahkan. Tapi “lawan” akan saling menguatkan. Menganggap suatu entitas sbg “musuh” mmbawa nalar pd logika slg melemahkan. Adapun “Lawan” akan menarik kt utk meningatkan kapasitas.

Adanya lawan tanding, lawan debat, lawan diskusi, lawan politik, akan membuat kita smkin kuat dan mantap. Kesadaran itu yg dijalani oleh org-org besar.

Sayang, smpai dsini nalar kita sperti buntu. Kita, saya dan Anda seringkali menisbatkan sgla ssuatu sbg musuh. Imagologi itu begitu kental: Kosakata gerakan, himpunan, kesatuan, pemilu, jaket, atau bendera diaminkan sbg logika musuh.

Perbedaan ideologi berarti musuh. Lawan politik adalah musuh. Yang senang mengkritik juga musuh. Terlebih ex officio, mereka yg sdg menjabat dianggap sebesar-besar musuh. Akibatnya : Ramai di kata, kosong di kapasitas. Pemuda kaya retorika, tp miskin intelektualitas. Problem maker, nothing problem solver. Lihatlah eskalasi politik di semua jenjang, dari level negara sampai kampus. Semua. Semua ideologi dan kelompok seperti ini hanya besar pasak daripada tiang. Buahnya : saling cela kekanak-kanakan. Tak ada karakter, minus kedewasaan.

Membaca wajah founding father negeri ini. Sepatutnya membuat kita malu dan berkaca. Syahrir terlibat saling kritik dgn Tan Malaka. Di luar itu mereka bgtu slg menghormati. Pak Natsir slg berselisih dgn Bung Karno, tp rasakan kedekatan mereka, saat memakan sate sepiring berdua. Atau melalui kehangatan saat mereka saling bergonceng sepeda. Juga dgn Bung Hatta yg sering tak sejalan dgn Bung Karno. Tp lihatlah Bung Karno dtg ke Bandung, membantu proses lamaran utk Bung Hatta muda (Roso Daras, 2010)

Orang-orang besar, memaknai perbedaan sebagai kawah candradimuka. Mereka saling hantam, saling berselisih, bahkan saling kritik. Tapi lihat, perbedaan tak sedikitpun menggeser kekerabatan dan sikap saling respek di antara mereka. Begitu sikap yang dimilki manusia-manusia besar, sehingga nama, pemikiran dan gerakan mereka terus menyala di tengah zaman. Hal itu yang tak dimiliki orang-orang kerdil. Mereka tampak gagah dalam berbicara, brlian dlm beretorika, pandai dalam membuka cela. Mereka mencari besarnya nama, tapi nyatanya nama mereka hanya bagai debu beterbangan. Semakin buruk dalam pandangan manusia.

Setiap kita berbeda itu wajar. Setiap kita saling bersaing, itu pun wajar. Tapi saat perbedaan dalam satu negara, satu kota, satu kampus, atau bahkan satu almamater hanya menjadi keributan yang saling hujat menjatuhkan, saya kuatir, orang jenis ini adalah termasuk mereka yg disebut Soe Hok Gie dgn getir, “manusia-manusia jenis ini hanya cocok masuk keranjang sampah.”

Ah begitu kasar, tapi jangan-jangan memang benar adanya. We fight not because we hate what’s in front of us, but because we love what is behind us. Kawan, tak ada musuh disini, yang ada hanyalah lawan. Jangan takut dengan manusia, seperkasa apapun mereka di dunia.

-Dea Tantyo-


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: