Posted by: deatantyo | May 2, 2011

Meringkus Akar Perkara Terorisme

“Dear God, please save us from the people who believe in you”

“Dear God, please save us from the people who believe in you”. Begitu bunyi sebuah doa yang tertulis pada dinding “9/11” di Washington DC. Kata-kata itu begitu kontemplatif sekaligus menampar kita. Benarkah orang-orang yang beragama telah menjadi sedemikian berbahaya? benarkah setiap peristiwa pengeboman atau terorisme selalu bermuara pada agama?

Miris memang jika menyaksikan agama yang seharusnya menjadi tempat suci, kini dituduh sebagai dalang terorisme. Beragam tragedi terorisme hingga hari ini telah menyeret agama dalam posisi sulit. Pertanyaan yang kemudian menyeruak adalah benarkah terorisme berjalan berkelindan dengan agama? Sulit untuk mengatakan dengan pasti. Jika dikatakan “ya” seolah menarik agama dalam dunia kotor yang bertentangan dengan makna agama itu sendiri. Namun jika dikatakan “tidak” seolah mengubur kenyataan bahwa para pelakunya seringkali menggunakan simbol dan spirit agama, dimana misalnya, praktik terorisme seperti bom bunuh diri diaminkan atas dasar argumen-argumen salah kaprah, seperti : jihad, mati syahid, dan sebagainya.

Di sisi lain, alih-alih mereda, praktik terorisme malah menyebar kian subur melalui pola rekruitmen yang seakan tak pernah kehabisan stok kader. Ideologi terorisme begitu kuat diestafetkan kepada para anggotanya. Itulah mengapa meski negara Indonesia merupakan salah satu negara terbanyak yang menangkap teroris, namun kenyataannya permasalahan terorisme tak pernah usai. Pemerintah mungkin berhasil meringkus dan melumpuhkan secara fisik pelakunya, tetapi tidak dengan ideologinya.

Karena itu upaya pemberantasan terorisme melalui penggrebekan, penangkapan, sampai penghentian aksi teror, haruslah diimbangi dengan deradikalisasi (pelemahan dan pencegahan) terorisme. Dalam hal ini, dengan meluruskan kembali pemahaman dalam beragama: bahwa ideologi dan praktik terorisme sama sekali berbeda dengan nilai-nilai ilahiah (agama). Hal ini penting untuk diluruskan agar masyarakat tidak tersesat dalam pemahaman yang keliru, juga agar tidak ada salah persepsi antar umat beragama yang malah memicu skeptis beragama.

Perbaikan ideologi itu bisa dilakukan melalui pendidikan formal dan non-formal. Pendidikan non-formal melalui pendidikan pengajian sehingga memperbaiki pandangan masyarakat terhadap ajaran agama secara tepat. Pendidikan formal melalui materi-materi yang meningkatkan moral dan rasa nasionalisme dalam diri masyarakat, sekaligus penanaman yang tepat mengenai teror sebagai kejahatan yang tidak manusiawi. sehingga memacu mereka agar memiliki imun terhadap ajaran-ajaran sesat. Semua proses tersebut harus dimulai sejak dini, sehingga mampu mematahkan rantai terorisme.

Pencegahan kedua, meliputi; perbaikan bidang sosial dan ekonomi, yang mampu mengurangi situasi kriminogenik dan sebab dasar terorisme; menciptakan kondisi yang memberikan harapan keberhasilan masyarakat; serta intervensi sebelum aksi teror terjadi.

Pencegahan ketiga, dengan pendekatan sosial kemasyarakatan, yaitu dengan menggerakan potensi masyarakat dalam mencegah kejahatan terorisme. Misalnya dengan memberdayakan organisasi-organisasi kemasyarakatan dalam rangka pengawasan terhadap kelompok-kelompok yang berpotensi melakukan teror. Rt/Rw bisa menjadi bagian dari sistem informasi kepada aparat penegak hukum sehingga kejahatan terorisme bisa dicegah dengan baik.

Meringkus akar perkara terorisme, berarti mengintip ruang optimisme dalam bernegara dan beragama. Goresan skeptisisme yang terpampang pada tembok 9/11 di Washington serta kerap berulangnya cerita terorisme di negeri ini, mengajak kita untuk merenung lebih dalam: bahwa tidak cukup sekedar mengatasi terorisme pada soal-soal di “hilir” namun melupakan sumber-sumber penyebab yang menjadi “hulu” masalahnya. Terorisme yang semakin menggeliat, memberi pesan pada kita untuk tidak sekedar mengatasi permasalahan pada permukaan melainkan juga pada sumber-sumber perkara di akarnya. Dengan cara itulah kita bisa berharap untuk menyudahi episode terorisme di negeri ini.


Responses

  1. NUMPANG INFO YA BOS… bila tidak berkenan silakan dihapus:-)

    LOWONGAN KERJA GAJI RP 3 JUTA HINGGA 15 JUTA PER MINGGU

    1. Perusahaan ODAP (Online Based Data Assignment Program)
    2. Membutuhkan 200 Karyawan Untuk Semua Golongan Individu yang memilki koneksi internet. Dapat dikerjakan dirumah, disekolah, atau dikantor
    3. Dengan penawaran GAJI POKOK 2 JUTA/Bulan Dan Potensi penghasilan hingga Rp3 Juta sampai Rp15 Juta/Minggu.
    4. Jenis Pekerjaan ENTRY DATA(memasukkan data) per data Rp10rb rupiah, bila anda sanggup mengentry hingga 50 data perhari berarti nilai GAJI anda Rp10rbx50=Rp500rb/HARI, bila dalam 1bulan=Rp500rbx30hari=Rp15Juta/bulan
    5. Kami berikan langsung 200ribu didepan untuk menambah semangat kerja anda
    6. Kirim nama lengkap anda & alamat Email anda MELALUI WEBSITE Kami, info dan petunjuk kerja selengkapnya kami kirim via Email >> http://uangtebal.wordpress.com/


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: