Posted by: deatantyo | April 28, 2011

Debat Ahmadiyah

“Mendengar jawaban A Hassan yang tidak mengetahui siapa perawi hadits itu, Abu Bakar Ayyub dan para pengikut Ahmadiyah yang hadir menyunggingkan senyum dan bersorak kemenangan”.

JAKARTA, 1933. Pada tanggal 29 September malam sekitar 2000 orang berjejal di sebuah tempat di gang Kenari, Salemba. Mereka mengikuti perdebatan antara dua orang tokoh: Nama terkenal A. Hassan yang mewakili Pembela Islam dan Abu Bakar Ayub pembela Ahmadiyah Qadian. Pada akhir itu juga pihak Pembela Islam menerbitkan rekaman debat tersebut yang kemudian dicetak ulang 40 tahun kemudian (1973).

Pukul 8 rapat dibuka oleh Ketua, tuan Mohd. Muhyidin dengan lebih dahulu mengucapkan seperti berikut : “Tuan-tuan putera dan puteri. Saya mengucapkan terimakasih atas kedatangan sekalian. Ternyatalah perdebatan ini dapat perhatian yang penting. Melainkan saya harap supaya tuan-tuan sekalian akan tinggal dengan iman, seperti kemaren.

Sekarang akan diperingati lagi kepada tuan-tuan supaya janganlah mencela atau mengeluarkan perkataan atau isyarat-isyarat yang memihak ke salah satu partai yang sedang berdebat. Barang siapa tiada menurut akan aturan ini, saya akan ambil tindakan. Ingatlah, walaupun tidak setuju juga simpan sahaja dalam hati. Tetaplah memegang aturan seperti kemaren malam. Pembicaraan ini malam akan dibicarakan, apakah sesudah Nabi Muhammad s.a.w. akan ada lagi Nabi atau tidak. Fihak Ahmadiyah akan mengasih keterangan, dalil-dalil yang menguatkan pendiriannya, bahwa sesudah Nabi Muhammad, ada Nabi lagi yang tidak membawa syare’at. Pembela Islam akan kasi keterangan sesudah Nabi Muhammad tidak akan ada Nabi lagi, walaupun yang tiada membawa syare’at baru. Saya persilahkan tuan Abu Bakar Ayub waktunya 1 jam paling lama janganlah menyimpang dari rel”.

Dalam perdebatan itu, A Hassan yang dikenal piawai dalam berdebat, mengemukakan sebuah ‘hadits’ yang dikutip dari kitab Mirza Ghulam Ahmad, yang berbunyi: “Di hari Rasulullah saw meninggal, bumi berteriak. Katanya: “Ya Allah, apakah badanku ini akan Engkau kosongkan daripada diinjak oleh kaki-kaki nabi sampai hari kiamat?” Maka Allah berfirman kepada bumi itu: “Aku akan jadikan di atas badanmu (di atas muka bumi) manusia yang hatinya seperti nabi-nabi:’

Secara spontan, Abu Bakar Ayyub menanyakan kepada A Hassan tentang riwayat hadits ini. Dengan berpura-pura, A Hassan menjawab “tidak tahu” sambil mengatakan, “Apakah tuan suka hadits ini? Bila tuan suka silakan pakai, bila tidak silakan tolak:’ Mendengar jawaban A Hassan yang tidak mengetahui siapa perawi hadits itu, Abu Bakar Ayyub dan para pengikut Ahmadiyah yang hadir menyunggingkan senyum dan bersorak kemenangan. Mereka mengganggap A Hassan sudah kalah karena mengutip ‘hadits’ yang tak jelas siapa perawinya, diambil dari kitab mana, dan siapa penulisnya. Karena tak jelas, Abu Bakar Ayyub menolak ‘hadits’ itu.

Setelah sorak sorai ‘kemenangan’ itu reda, A Hassan menyebutkan bahwa ‘hadits’ itu ada dalam kitab yang ditulis Mirza, yang berjudul Tuhfah Baghdad halaman 11, terbitan Punjab Press Sialkot, Muharram 1311. Seketika, Abu Bakar Ayyub dan para pendukungnya tersentak dan pucat pasi. Selanjutnya, giliran A Hassan tersenyum sambi! menyuruh Abu Bakar Ayyub bertanya kepada ‘nabinya’ (Mirza Ghulam Ahmad) untuk menanyakan siapa perawi hadits itu dan dari kitab mana diambilnya. Tanyakan pula, kata A Hassan, bagaimana bumi bisa bicara kepada manusia, sebab ‘hadits’ itu bukan hadits Nabi, mengingat dalam kitab Mirza itu ditulis, bumi berteriak setelah Rasulullah wafat. “Tentu ada orang lain yang mendengar omongan bumi. Siapa dia? Tanyakan kepada ‘nabr Mirza;’ ketus A Hassan. Meski sudah terdesak, Abu Bakar Ayyub masih berkelit dan mengatakan bahwa ‘hadits’ itu bisa jadi terdapat dalam Kitab Kanzul Ummi yang juga milik Ahmadiyah.

Namun saat itu, Abu Bakar Ayyub mengatakan tidak membawa kitab tersebut, jadi tidak bisa dicek. A Hassan kemudian menegaskan, dengan adanya perkataan yang ditulis oleh Mrza Ghulam Ahmad itu sudah cukup menunjukan palsunya kenabian Mirza. “Kalau perkataan yang begini terang, tuan mau putar-putar lagi, saya minta diadakan juri. Saya heran, apa sebab Ahmadiyah takut diadakan juri. Juri tidak akan makan orang!” tegas A Hassan yang meminta diadakan juri untuk menilai siapa yang salah dan siapa yang benar.

Kisah perdebatan itu ditulis oleh H Tamar Djaya, seorang sejarawan Muslim dalam buku Riwayat Hidup A Hassan, dan ditulis kembali oleh Yusuf Badri dalam Persis dan Ahmadiyah. Meski tak ada kesepakatan apapun setelah debat itu, risalah perdebatan A Hassan versus Ahmadiyah kemudian dibukukan dan disebarluaskan ke seluruh Indonesia.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: