Posted by: deatantyo | February 28, 2011

Menggagas Politik Terang

Oleh : Dea Tantyo

“Habis gelap terbitlah gelap”. Seperti itu mungkin kata-kata yang tepat untuk menggambarkan betapa kelabunya bangsa ini. Berbanding terbalik dengan diktum “Door Duisternis Tot Licht” (Habis Gelap Terbitlah Terang) yang dibawakan RA Kartini, dinamika politik-hukum di negeri ini seperti mati lampu berkepanjangan. Kasus demi kasus terus saja menampilkan wajah buramnya. Kisruh Century, Makelar Kasus, Mafia Pajak menjadi semacam rekayasa politik yang tak jelas ending-nya.

Kita juga pernah mengenang perjuangan antikorupsi yang dikelola dalam ruang gelap. KPK, Polri dan Kejaksaan Agung yang menjadi sandaran rakyat dalam pemberantasan korupsi, malah saling bersengketa. Seperti kotak Pandora, kasus demi kasus malah memunculkan banyak keterlibatan beberapa nama yang semakin membuat runyam penyelesaiannya. Hal ini lalu diperparah dengan sikap politik pihak penguasa yang seringkali kontradiktif dengan hakikat pemerintah untuk menyelenggaraan pemerintahan yang bersih. Mirisnya, konflik hukum dan politis itu malah menjadi tontonan di tengah upaya reformasi hukum negeri ini. Tak heran jika masyarakat semakin bingung dan sesak membaca wajah Indonesia.

Dalam melihat dinamika ini, setidaknya kita bisa bisa mencermati beberapa hal. Pertama, demokrasi telah menjadi arena kontestasi yang melahirkan moral hazard para politikus. Meminjam istilah yang dikemas Linz dan Stepan dalam bukunya, Toward Concolidated Democracies, bahwa arena itu disebut sebagai “The only game in Town” dimana setiap orang saling berlomba memperebutkan kekuasaan. Akibatnya kepentingan para elit politik seringkali mencederai kepentingan rakyat. Tak salah jika kemudian diksi politik menjadi anjlok di mata masyarakat.

Kedua, media massa yang disebut-sebut sebagai pilar keempat (the fourth estate) negara demokrasi, kini tampil begitu rapuh. Objektivitas media dalam memilah kebenaran dan ketimpangan menjadi minim. Alih-alih mengkritisi pemerintah, media sering beralih fungsi menjadi corong pemerintah dan menyalurkan kepentingan-kepentingan penguasa. Istilah Goenawan Mohammad, pers ibarat ‘pesawat yang dibajak’.

Ketiga, terkait eskalasi pemerintahan dalam bingkai negara demokrasi, adalah sebuah keniscayaan, bahwa penguasa memiliki sparing partner demi menjaga derap roda pemerintahan yang sehat. Sayangnya, proses ini seringkali penuh tanda tanya. Independence critical thinking yang diaminkan melalui partai politik hanya menjadi topeng sakit hati pihak oposisi. Alih-alih meluruskan ketimpangan, pihak oposisi malah membawa angin destruktif bagi negara. Tidak sampai disitu, formasi koalisi-oposisi bisa berubah-ubah sesuai kepentingan. Imbasnya, keduanya memberi sumbangsih bagi rekayasa politik yang membikin bangsa semakin runyam.

Begitu banyak rekayasa politik yang berkelindan di negeri ini. Namun hal ini tentu tidak menjadi alasan untuk tidak memperbaiki kondisi bangsa yang kian redup ini. Pat gulipat politik berkepanjangan yang membuat sesak masyarakat tentu harus segera disudahi. Ruang-ruang demokrasi sepatutnya diisi dengan eskalasi politik yang bermoral. Dalam konteks ini, prinsip demokrasi dari, oleh, dan untuk rakyat harus tetap dijunjung tinggi. Dan selama pemerintah mengkooptasi esensi itu dengan berbagai manipulasi politik demi kepentingan individu atau golongan, selama itu pula pemerintah harus digugat.

Ah tampaknya, sesekali bangsa ini harus mengunjungi modal spiritualnya. Kearifan prinsip “Gusti ora sare” (Tuhan tidak tidur) harus diterjemahkan dalam tindakan politik, agar siapapun sadar bahwa Tuhan senantiasa mengawasi segala gerak-gerik hamba-Nya. Akhirnya, semoga diktum “Door Duisternis Tot Licht” tidak hanya menjadi judul dari kumpulan jawaban RA Kartini tentang bangsa dan agamanya, tetapi juga menjadi sebuah jawaban manis bagi kehidupan politik yang terang di Indonesia.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: