Posted by: deatantyo | February 24, 2011

Hidupkan Kembali Bhinneka Tunggal Ika Kita

oleh : Dea Tantyo

Seperti serba salah menatap dinamika demokrasi Indonesia. Tentu kita ingat, ketika orde baru menampilkan wajahnya yang begitu “ekslusif”, masyarakat maupun media tak mampu bergerak banyak untuk mengekspresikan kegelisahan sosialnya. Pemerintah begitu ketat menjaga batas demokrasi. Sikap kritis dan kebebasan demokratis pada saat itu terasa tabu.

Hingga sampai pada titik kulminasi di tahun 1998, saat berbagai elemen masyarakat meledakkan sebuah reformasi besar yang menjadi salah satu tonggak sejarah negeri ini. Mulai saat itu, pintu demokrasi seakan terbuka lebar. Suara-suara kritis dan ekspresi kegelisahan warga kerap nyaring terdengar.

Sayangnya, gelombang massa tanpa karakter kebangsaan cenderung menguat pada era reformasi, euforia ini lalu berjalan seiring melemahnya otoritarianisme negara dan menguatnya elemen sipil. Imbasnya, tindak kekerasan seolah menjadi aktivitas yang dianggap wajar dari perhelatan demokrasi Indonesia. Belum hilang dalam ingatan kita misalnya kerusuhan yang dilakukan beberapa mahasiswa Makassar atau kerusuhan Priok beberapa waktu lalu. Seperti mati satu tumbuh seribu, berakhirnya satu insiden, memunculkan insiden lain di berbagai daerah, baik yang membawa isu politik, hingga isu agama. Yang teranyar kita saksikan adalah konflik Padeglang dan Temanggung yang tak habisnya disiarkan di media massa.

Ada apa dengan Indonesia? Bangsa ini seketika seperti lupa akan makna persaudaraan dan persatuan yang telah digagas dengan susah payah oleh para Founding Father. Padahal sejak merdeka dan berdaulat, Indonesia telah mengumandangkan cita-citanya untuk menjadi bangsa beradab. Pilar-pilar peradaban itu dipancangkan melalui pancasila, atas nama kesetiaan kepada Tuhan dan kemanusiaan. Ironisnya, banyak konflik di negeri ini malah mencederai kedua pilar itu. Pancasila dan semboyan mulia Bhinneka Tunggal Ika akhirnya hanya bersisa sebatas sayup-sayup jargon. Kita lupa tentang makna bangsa sebenarnya.

Mengutip tulisan Bung Karno, menurut pendapat seorang pujangga Ernest Renan, bahwa bangsa adalah suatu nyawa, suatu azas akal, yang terjadi dari dua hal, pertama, rakyat itu dulunya menjalani suatu riwayat; kedua, rakyat itu harus mempunyai kemauan, dan keinginan hidup menjadi satu. Dalam konteks ini, sepatutnya kita faham bahwa pengertian suatu bangsa bukan sekedar kesamaan jenis ras, bahasa, atau batas-batas negeri saja. Tapi lebih dari itu, keragaman suatu bangsa semestinya disampul oleh keinginan yang sama untuk hidup bersatu. Inilah hakikat bangsa yang ber-Bhinneka Tunggal Ika.

Beragam pengalaman pahit yang pernah dilalui bangsa ini, sepatutnya menjadi pelajaran berharga yang mendewasakan kita dalam menjalani kehidupan berbangsa. Sentimen “kekamian” tidak boleh lagi menggerus “kekitaan”. Sebaliknya, “kekitaan” harus dikelola menjadi sebuah modal sosial untuk menjadi bangsa yang maju dan terhormat. Sebab itu, kesadaran tentang kemajemukan harus terus menjadi bagian integral dari degup kehidupan kita sebagai bangsa.

Jika masyarakat negeri ini mampu keluar dari kesempitan kelompok dan menghargai kemajemukan dalam masyarakat, kemudian mau berbesar hati untuk saling memaafkan, tak akan ada lagi berulang kisah pilu konflik horizontal yang banyak memakan korban.

Dan akhirnya sebagai penutup. Dalam kitab Ramayana disebutkan ada sebuah negeri bernama Uttara Kuru, di negeri ini tidak ada susah yang terlalu, tidak ada masalah yang terlalu. Negeri tanpa problematika. Tidak ada rintangan. Kehidupan disana rasanya indah, tidak terlalu senang dan tidak terlalu susah. Semuanya serba sedang-sedang saja.

Tapi apakah kita mau menjadi negeri seperti itu? Tidak, bangsa seperti ini tidak akan menjadi bangsa yang besar. Kita, Bangsa Indonesia, lebih memilih menjadi bangsa besar karena berbagai tempaan. Kita lebih memilih menjadi bangsa besar yang terus digembleng setiap hari, hampir hancur lebur, tapi bangkit kembali. Bangsa seperti inilah yang akan menjadi bangsa besar karena telah lama berkawan dengan kerasnya kehidupan dan permasalahan.

Dan kini, saatnya kita sudahi setiap kepiluan yang pernah ada. Mari saling berjabat dan bergandengan tangan. Kita hidupkan kembali semangat Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika yang sempat mati.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: