Posted by: deatantyo | December 24, 2010

Dinamika Kampus : Cut Throat Competition!

“Audaces Vortuna Iuvat, nasib baik selalu bersama para pemberani. Jangan takut dengan manusia, seperkasa apapun mereka di dunia!”

Zaman berubah. Republik ini kian menggeliat. Kita tak lagi dihadapkan pada kolonialisme dalam bentuknya yang lampau. It’s time to Cut Throat Competiton! Kita ditantang untuk dapat berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah pada trek kompetisi yang semakin brutal. Kini, siapa yang keras pada hidup, hidup akan lunak terhadapnya. Siapa yang lunak pada hidup, hidup akan keras kepadanya. Maka tak keliru jika setelah menaklukan Romawi, Umar Radhiallahu’anhu menegaskan dengan lantang, “Setiap zaman memiliki seleranya masing-masing!”. Siapa yang tak menyesuaikan diri, bersiap terlindas zaman. Atau boleh berbaris mundur.

Pertanyaan selanjutnya menyeruak menjadi dua pekerjaan rumah : Siapa yang akan bertahan diatas atau siapa yang terpuruk di bawah? Siapa yang menguat di sisi zaman atau siapa yang akan terhempas? Sebagai contoh, tarik saja konteksnya dalam medan kampus yang dikatakan sebagai miniatur negara. Berupa-rupa kepentingan ada disini. Imbasnya : Kampus tercelup banyak warna dan menjelma menjadi arena kompetisi politik. Atau yang dikenal sebagai arena kontestasi, atau meminjam istilah yang dikemas Linz dan Stepan dalam bukunya, Toward Concolidated Democracies, arena itu disebut “The only game in Town”.

Sampai di titik ini, kita melihat bahwa setiap orang atau entitas saling berlomba. Hingga politik dijadikan komoditas. Tapi disini, kita tak bicara struktur atau raihan jabatan politik yang remeh-temeh. Sebaliknya, kita bicara tentang idealisme, bicara tentang prinsip, bicara tentang ‘kita’ sebagai Guardian of Value sivitas akademika. Setiap personal, boleh terlibat banyak kepentingan, tapi di luar itu, sampai kapanpun kampus adalah kawah candradimuka yang harus bebas dari politisasi dan kooptasi kepentingan politik kotor. Kita tak boleh alpha mempertahankan integritas dan independensi kampus dari banyak oknum. Kita mencegah mereka yang hobi mendekonstruksi pilar asasi kampus. Kita menghafal mati dan mengamalkan sebuah prinsip tentang kampus yang ditegakan dan dibangun “dari, oleh, dan untuk mahasiswa”. Maka sesuai kaidah ini bolehlah dikatakan, tak ada ruang untuk organ extra kampus yang mencla-mencle.

Siap bertarung?
“Akan datang masa” kata Rasul, “Umat ini seperti santapan yang dikelilingi dan siap disantap oleh para penyantapnya.” Sahabat lalu bertanya, “Apakah jumlah kita saat itu sedikit ya Rasul?”. Jawab Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam, “Tidak! Bahkan jumlah kalian saat itu sangat banyak, tetapi kemudian Allah mencabut rasa takut pada musuh-musuh kalian, dan menanamkan sifat Wahn pada hati kalian”. “Tahukah kalian apa itu sifat Wahn?” Tanya Rasul melanjutkan. Sahabat terdiam. Kemudian Rasul menjawab, “cinta dunia dan takut mati”.

Hadist yang menarik. Dan kalaulah boleh kita kontekstualkan maknanya dengan dinamika kehidupan kampus, kita bisa melihat ada sedikit kesesuaian meski mungkin sangat jauh jika dijadikan tools analogi. Apa yang menarik? Ada hikmah yang mengintip dari teks diatas: ‘Cinta dunia’, yang mungkin bisa kita maknai dalam dinamika kampus sebagai ‘tak peduli, apatis, dan tak mawas diri’ lekat kaitannya dengan sikap pengecut, sikap yang pada gilirannya berkelindan dengan sikap takut ‘mati’ (tidak mau terlibat benturan untuk mempertahankan identitas). Outputnya, musuh tak gentar untuk ‘menyantap’ kita.

Bicara tentang ranah politik kampus, erat kaitannya dengan pergiliran kuasa di dalamnya. Siapapun boleh memimpin disini. Siapapun berhak menjadi creative minority yang menentukan bulat lonjong kampus ini. Tapi saat proses ke arah itu diaminkan dengan cara tak etis, maka saat itu juga mereka harus digugat. Bahkan, meminjam bahasa Soe Hok gie, orang-orang seperti ini–yang hanya bisa berbusa-busa tanpa bekerja, yang hanya bisa merusak tanpa membangun–boleh masuk keranjang sampah.

Audaces Fortuna Iuvat
Kita mengingat kekata, Audaces Fortuna Iuvat. “Nasib baik memihak pada para pemberani”, begitu bunyi pepatah latin. Jalan ini tak memerlukan orang-orang yang ragu atau tak berani bersinggungan dengan realita kampus. Sebaliknya diperlukan barisan kokoh yang siap menjaga derap perjuangan. Maka saat kita memutuskan untuk terlibat disini, itu artinya kita bersiap merapikan nyali-nyali kita. Kita memasang badan. Kita memasang daya untuk menjaga prinsip itu. Kita menegaskan sebuah kredo “Sebaik-baik pertahanan adalah dengan menyerang”. Disini mungkin kita bisa terjerembab jatuh, kita bisa gagal, bahkan menurut Winston Churchill, kita bisa terbunuh berkali-kali. (In war, you can only be killed once, but in politics, many times.) Tapi kemudian kita memilih bangun, bangkit, dan terus hidup demi merespon dinamika tersebut.

Kita akan terus bekerja melampaui mereka yang hanya pandai beretorika. Kita memilih menjadi problem solver, bukan problem maker, bahkan kita menghindar dari mereka yang gemar memanaskan kampus dengan beragam propaganda yang semakin membuat kampus kusut dan kian mundur, untuk barisan ini kita menyebutnya problem trader.

Segala sesuatu berubah. Dan peradaban, menurut Ibnu Khaldun, mengalami masa pertumbuhan, konsolidasi, puncak keemasan, pembusukan, dan kemudian keruntuhan. Demikian juga disini. Perjalanan ini masih panjang. Roda perjuangan ini masih harus terus digulirkan. Kita akan terus menjaga, mengairi, memupuk, dan menumbuhkan peradaban kampus ini hingga mencapai masa keemasannya.

Lalu siapa yang akan menghimpun ini semua? Dan kapan harus kita laksanakan? Jawabannya persis sebagaimana ujar Gorbachev, bapak Glasnot-Perestroika, saat menutup riwayat 70 tahun komunisme yang mencengkram Uni Sovyet: “If not me, who? And if not now, when?”. Ya dengan lantang kita mengumandangkan bahwa kita yang akan menuntaskan semuanya.

Akhirnya, saya teringat pepatah timur; “Siapapun boleh mencoba merusak taman bunga kita, tapi tak akan ada yang bisa menahan laju datangnya musim semi”. Kawan, jangan takut dengan manusia seperkasa apapun mereka di dunia.

-Dea Tantyo-


Responses

  1. Kawan jangan pernah takut dengan skripsi sesulit apapun ia di dunia ^^V

    • Insya Allah . Bismillah!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: