Posted by: deatantyo | November 6, 2010

Selamat Datang di Rumah Sakit

“Akhirnya, kita menginsafi bahwa kesehatan milik Allah bukan milik Rumah Sakit”.

Selamat datang di Rumah Sakit. Disini kita belajar setidaknya tentang 2 kesabaran:

Pertama, kita bersabar melalui beragam kondisi yg Allah titipkan. Sehat, sakit, suka, duka, hidup, dan mati. Semua dari Allah, dan akan kembali pada Allah.

Kedua, kita bersabar atas pelayanan beberapa RS yg membuat hati miris. Berangkat dari rasa kecewa, Saya menekankan konteks ini karna ada beberapa RS yg berani membawa nama agama Allah atau nilai-nilai agama, atau diksi-diksi keislaman tapi dalam praktiknya banyak mencederai hati masyarakat; Mengaku sebagai tempat bernilai kemanusiaan tapi dalam pelayananya menjadi tempat paling tidak manusiawi; Meng-claim nilai-nilai syariah tapi dalam praktiknya jauh teramat kapitalis; Mengaku sebagai tempat menolong masyarakat, tapi nyatanya sering menjadi tempat zholim yg mengiris.

Mendengar dan mengalami sendiri banyak kisah di RS, membuat saya mengerti perihnya rasa yg dialami mba Prita, atau bnyak masyarakat lain yang bernasib serupa. Yang dipaksa mengais-ngais kesehatan. Yang diperlakukan secara tak etis oleh (oknum) dokter dan perawat. Yang disikapi dgn kasar dan kurang ajar. Yang tak sopan, tak adil dan acuh tak acuh. Dan bla-bla yg lainnya.

Kadang beberapa Dokter atau para perawat sering digambarkan sebagai streotype strata kemanusiaan yang prestise oleh banyak orang, tapi tak jarang dlm waktu yg bersamaan menjadi (oknum) yg paling tak waras, saat kehendak-kehendak material mereka tak dipenuhi.

Pernah mendengar penipuan di RS? Pernah mendengar pasien dibentak-bentak oleh perawat? Pernah melihat RS yang lebih memilih menanggalkan sisi kemanusiaan demi rupiah? Pernah melihat ketidakramahan, kekurangajaran dan kepalsuan di RS?
Saya pernah. Dan belum lama beberapa keluarga pasien lain di RS yg sama menceritakan banyak pengalaman perihnya disini.

Aneh! Ada RS yg mengaku mengamalkan nilai-nilai ilahiah, namun paling unggul dlm mencederai hati masyarakat. Maka saya bingung, entah bgaimana mereka mnyampaikan pertanggung jawaban sosialnya di bumi, atau mungkin mereka lupa tentang pengadilan yg jauh lebih adil nanti? Apa yg akan mereka katakan di depan Allah?

Sejak kecil, profesi dokter begitu saya hargai atau bahkan saya kagumi. Karna tak sembarang, profesi ini menembus 2 dimensi: dunia dan akhirat. Ibadah sosial sekaligus jariyah yg diridhai.

Tapi hari-hari ini, gambaran itu hampir saja terkikis dan teredifinisi. “Karna nila setitik, rusak susu sebelanga”. Banyak tingkah polah yg mengiris-iris hati. Bahkan pada titik kulminasi, RS menjadi tempat menyuburkan keperihan-keperihan baru. Pasien dipaksa bertarung tidak hanya dari sakit raga, tapi juga “jiwa”. Bukan me-nol kan sakit yang satu, malah merubah satu sakit menjadi “dua”.

Entahlah apa yg akan mereka katakan di hadapan Allah nanti, tp saya berusaha yakin, masih ada dokter, perawat atau petugas yang membersamai pasienya dgn baik. Karnanya besar harapan saya kepada para pahlawan-pahlawan berjubah itu untuk menjadikan kerja-kerjanya dalam ihsan dan ikhlas yang sebenarnya. Yang kemudian mampu membagi-bagikan kebahagiaan kepada seluruh pasien. Karena itulah hakikat fungsional RS bukan sekedar tempat menampung orang sakit yg malah makin bertambah sakit.

Ah, andai mereka-mereka pernah menonton film “Patch Adam” yang diperankan apik oleh Robbin Williams. Agar mereka paham, bahwa hakikatnya pasien lebih butuh kebahagiaan dibanding sekedar kesembuhan. Butuh jalan keluar bukan tambalan masalah baru. Suka bukan duka. Agar mereka TAHU bahwa pasien butuh perhatian, kelembutan, waktu untuk didengar, atau sekedar tegur sapa menanyai “Bagaimana kabar Bapa/Ibu hari ini?” (That’s all they need. Little things, but means a lot!) Bukan kepalsuan yg dibungkus atas nama agama.

Akhirnya, saya hanya bisa mengelus dada dan menginsafi bahwa kesehatan milik Allah bukan milik Rumah Sakit. Dan semoga Dia mengaruniakannya untuk kita. Kini, tertatih saya membangun optimis, seraya berharap : masih ada banyak Patch Adams lain yg bercita-cita membagikan kebahagian di RS-RS negeri ini.

Kita milik Allah, dan kepada-NYA kita kembali. Yang benar dari Allah, yang salah dari penulis. Astaghfiruka wa atubu ilaik.

Dea Tantyo.
Rumah Sakit, 23.00 WIB.


Responses

  1. Kang Dea, pada dasarnya saya sepakat sama isi tulisan ini. ada beberapa hal yang mungkin menarik kalau kita diskusikan bersama. untuk lebih aspiratifnya tulisan ini, mungkin bisa di-share atau di-post di web-nya ISMKI (Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran Indonesia), ILMIKI (Ikatan Lembaga Mahasiswa Ilmu Keperawatan Indonesia), atau PSMKGI (Persatuan Senat Mahasiswa Kedokteran Gigi Indonesia). ini bisa jadi masukan yang berharga untuk kualitas personal profesi kesehatan yang tertulis di sini. tugas lembaga2 ini juga salah satunya adalah peningkatan kualitas profesi masing2, kok…

    kalau Kang Dea berkenan, tulisan ini bermutu juga untuk di-share di FB “Medfohum JMKI” karena kami bergerak untuk masyarakat. ini bisa menjadi masukan yang baik untuk pergerakan advokasi kami.

    n_n

  2. judul yang lebih pantas : NASIB DUKA PASIEN RUMAH SAKIT ****** (ngaco !)

    • Makanya Aleen, kamu jadi perawat aja ya.

  3. jika hanya utk menjadi sekedar perawat, kenapa tidak sekalian jadi dokter? Permasalahannya adalah.. ada yang bisa beritahu saya dimana bisa ambil S2 dengan program studi Kedokteran dengan latar belakang S1 Ilmu Ekonomi ?😀

    • “Rawat” orang-orang disekitar kita. Itu makna perawat sesungguhnya.🙂
      “Patch Adams”. Recommended film. UMS!

  4. saya perawat, saya bangga menjadi perawat!

    • Maju terus Nuni! Jadi perawat buat rakyat. Bahagiain banyak orang!😉

  5. dea…makasih ilmunya ya ^_^


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: