Posted by: deatantyo | September 23, 2010

Love Conquers All?

“Kuatkan diri kita, karna di jalan ini kita sedang mengubah cinta menjadi ridho-Nya. Lalu kita semakin mengerti : Cinta tak boleh menaklukan kita, tapi kitalah yang akan menaklukan cinta.”

Sayup-sayup Aku mengenangmu…

Kita tahu ada banyak kata dalam dada yang tak kuasa kita buka. Seperti bintang pada malam, Aku mengagumimu sejak dulu kita jumpa. Engkau bintang dan Aku malam. Menyala bintang karna malam. Gemerlap malam karna bintang. Aku mengingatmu, seperti awan pada hujan. Engkau serupa awan dan Aku hujan. Mendendang hujan di sisi awan. Tak lelah awan mengantar hujan.

Tapi hidup tak pernah datar. Ada takdir Tuhan. Ada batas-batas. Lalu kita ingat sebuah diktum : Ada Cinta diatas cinta. Aku tak hendak menghilangkan rasa itu. Atau berujar selamat tinggal padamu. Kita hanya memejamkan mata sejenak, lalu membukanya nanti di ruang dan waktu yang berbeda.

Jalan kita masih panjang. Kita tak sedang menanam cinta yang lemah, yang kerdil, yang bonsai. Yang terus mengurai kecewa dan memeras butir-butir air mata. Tidak. Tapi Kita menanam cinta yang hidup dan kuat. Kita sedang menata cinta yg menenangkan.

Sering kita menderita bukan karna kita mencintai, tapi karna kita menyerahkan kebahagiaan kita pada cinta yang salah diterjemahkan. Kita tak meneladani kisah pahit Romeo yang mati menenggak racun demi Juliet. Itu mengiris. Atau Qais yang ‘majnun’ disebabkan cinta butanya pada Layla. Tidak. Karena sejatinya, cinta tidak membenamkan titik, tetapi ia memendarkan koma. Kita tak mati dan berhenti karna cinta. Sebaliknya, kita menjauh dari cinta yang membuat kita sesak, sakit, dan terluka.

Mari memulainya sedari nol. Sediakan waktu kembali untuk membenahi iman kita. Kita pernah salah. Tapi kita terus belajar mengurai hikmah cinta sebenarnya. Tengadahkan pandangan kita ke langit kemudian Kita belajar dari apapun: Dari bintang, malam, awan, hujan, yang menjalankan kerja-kerja cintanya dalam diam. Lalu kita merendahkan hati ke bumi dan belajar dari apapun: dari hamparan sujud, dari doa-doa kita di pelataran malam, atau melalui keharuan di saat kita benamkan diri menuju Tuhan.

Tak mengapa kita merangkak memperbaikinya. Meski terjatuh. Meski tertatih, tersaruk dan berpeluh. Bahkan meski mata kita memejam lalu terisak dengan bening yg menitik-nitik. Tapi lihatlah kita semakin berubah menerjemahkannya. Kita mendewasa dan tumbuh semakin bijak memaknai bahwa sekali lagi ada Cinta diatas cinta.

Perlahan kita belajar untuk menghindarkan jiwa dari pepatah ‘Amor Vincit Omnia’ bahwa cinta menaklukan segalanya. Loves Conquers All? Tidak. Debu-debu itu tak berlaku disini. Kita akan menempuh jalan yang berbeda. Kuatkan diri kita, karna di jalan ini kita sedang mengubah cinta menjadi ridho-Nya. Kita berhenti sejenak untuk mengunjungi kembali iman kita. Lalu kita semakin mengerti : Cinta tak boleh menaklukan kita, tapi kitalah yang akan menaklukan cinta. (DT)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: