Posted by: deatantyo | September 13, 2010

Buruh, Tani dan Pembangunan

Seperti diungkap Schiller dan disitir Hatta, “Zamannya zaman besar, tapi ia hanya menemukan manusia-manusia kerdil.”

Aku merenungkan mayoritas umat: kelas buruh & tani miskin. Sesungguhnya keinginan mereka tidaklah banyak: makan cukup, rumah tak bocor, anak sekolah, transport murah, obat terjangkau. Mereka tak membutuhkan jalan tol, jaringan pita lebar, diskon mal besar2an atau Shikansen. Aku tak hendak berbicara tentang Komunisme dan sistem Marhaen. Atau Lenin. Atau Karl Marx dan Engels, yang melalui Das Capitalnya turut mengokohkan perjuangan Kiri. Aku juga tak berbicara tentang teologi pembebasan yg dibawa Hasan Hanafi.

Tapi Aku percaya, atas dasar pemikiran sesederhana tadi harusnya strategi pembangunan dibuat. Maksudku, semacam skala prioritas. Abjad pekerjaan yang harus dilakukan. Sebenarnya sederhana sekali. Mungkin karena terlalu sederhana, jadi terkesan tidak ilmiah, tidak tampak keren dan canggih. Tak terasa digdaya. Ah, terlampau banyak orang-orang pintar dan berpendidikan di negeri ini, tapi hampir tak ada yg mampu mengurai beban-beban yg terus menggelayut di pundak rakyat. Oleh karena itulah, menyederhanakan persoalan adalah seni kepemimpinan utama. Tidak diperlukan pemimpin yang hebat betul kalau begitu. Cukup pemimpin yang arif menghadapi zaman. Atau masalahnya ternyata adalah yang diungkap Schiller dan disitir Hatta, “Zamannya zaman besar, tapi ia hanya menemukan manusia-manusia kerdil.”


Responses

  1. kapitalisme memang sudah sangat mengakar di bangsa ini, lalu menciptakan manusia-manusia kerdil yang hanya berjuang untuk hidupnya sendiri, bukan untuk masyarakat ‘kaum PAPA’.

  2. Betul, ada solusi ga Ndri?

  3. solusi dari saya sama seperti konsepan perekonomian yang memang sudah pernah diterapkan oleh Bung Hatta, yaitu mengenai ekonomi kerakyatan yang memang merakyat, namun sayangnya ekonomi kerakyatan tersebut saat ini tidak menyeluruh diterapkan di Indonesia. Apabila kita liat kondisi perekonomian saat ini, pemegang kepentingan lebih mengutamakan orang-orang pemilik modal dibandingkan kaum minoritas.
    -_____-, ngiris yaaa..coba saya bisa hidup di saat zaman bung hatta menerapkan sistem perekonomian tersebut.

    • Coba Indri masuk FE.🙂
      Dalam konteks kekinian dan kedisinian, agak sulit memang menerapkan konsep ekonomi kerakyatan. Konsep yang ditawarkan Bung Hatta secara substansi sebenarnya sebangun dengan konsep ekonomi Islam. Ada “kontruksi jembatan” yang dibangun untuk menyetarakan akses dan meminimalisir kesenjangan. Sayangnya, memang mengganti sebuah sistem perekonomian yang telah diimplementasikan secara komperehensif dan masif di sbh negara memang tak semudah membalikan telapak tangan, selalu ada biaya dan resiko yang siap keluar untuk membayar prosesnya. Tapi sekali lagi itu bukan alasan buat kita untuk pelan-pelan membawa perubahan. ya ga?😉

  4. Sayangnya saya ga masuk FE kang..hhe
    tapi masuk FPIK

    hmm, ya,ya. PR buat kita bersama


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: