Posted by: deatantyo | July 5, 2010

Jadilah Intelektual Progresif

Judul buku : Jadilah Intelektual Progresif!

Penulis : Eko Prasetyo

Penerbit : Resist Book

Jumlah halaman : 133 halaman


“Kini kebutuhan kita bukan pada keberanian semata-mata, tapi lebih pada pengetahuan revolusioner dan kecakapan mengambil sikap revolusioner”

(Tan Malaka)

Sebagian kita mungkin sudah banyak yang tahu bahwa hampir setiap buku yang lahir dari rahim  penerbit “Resist Book” berbicara tentang gagasan perlawanan yang menggelora. Ya, buku “Jadilah Intelektual Progresif” kembali mengaminkan hal itu. Bermula dari kegetiran kondisi pendidikan yang hari ini cenderung menghasilkan para intelektual bayaran, sang penulis mencoba menggemakan kondisi itu dan mengurainya menjadi satu bentuk tulisan yang cukup panas mengkritisi ketimpangan model intelektual.

Apa yang membuat buku ini menarik adalah proses pembahasan yang dikaitkan secara empiris dengan para tokoh intelektual yang menyejarah yang sejatinya telah memberi contoh nyata perjuangan, mulai dari Che Guevara, seorang berkebangsaan Chili yang memilih terjun langsung ke lapangan menyentuh penderitaan. Kemudian Sayyid Quthb, simbol teguh perjuangan yang dipaksa mengakhiri hayatnya di tiang gantungan.  Berlanjut ke Antonio Gramsci, seorang penggiat konsepsi perjuangan kelas yang menjadi dalil perubahan sosial yang kemudian ia maknai secara lebih progresif. Sampai Ali syariati, sosok intelektual yang mambangun kembali kesadaran akan tugas dan peran para kaum terpelajar sesungguhnya.

Buku ini terbagi menjadi empat sub-bab pembahasan. Pertama, penulis menawarkan tajuk hangat: Perjalanan Menuju Pengkhianatan, berisi tentang kegetiran realita intelektual hari ini. Sebuah kondisi memprihatinkan yang menodai idealisme kaum terpelajar. Semua dibalur dengan citra pengkhianatan atas dasar materi. Pada bab kedua, penulis membawa tajuk “Identitas Seorang Intelektual”. Sebuah tema yang memberikan kesadaran dan pemahaman tentang peran sebenar seorang intelektual yang kemudian dikaitkan dengan riwayat para tokoh pejuang intelektual: mulai dari Che Guevara hingga Ali Syariati. Pada bab ini penulis memberikan sebuah gambaran imajiner tentang para pejuang-pejuang yang mengonversi perannya sebagai intelektual yang progresif. Bab selanjutnya : Kekuasaan dan Robohnya Nyali Intelektual. Disini penulis membahas tentang kegetiran-kegetiran sosok kaum terpelajar. Bab keempat, “Mereka Terlibat dalam Gerakan Militan” membawa kita pada pengalaman heroik para pejuang. Merealisasikan kata menjadi langkah nyata.

Di bagian belakang sampul, penulis mengungkapkan satu pernyataan getir : “Pendidikan kerapkali melahirkan orang pintar tanpa nyali. Itu yang mengantarkan para intelektual jadi budak kekuasaan dan kekuatan modal. Keduanya punya kemiripan : membuat penindasan jadi terasa berbau ilmiah. Tapi tak semua intelektual berkarir sebagai pengkhianat, Antonio Gramsci, Che Guevara, Rosa Luxemburg, Sayyid Qutb dan Ali Syariati, mereka membangkitkan kembali spirit pergerakan dalam diri seorang intelektual. Mereka tidak sekedar melakukan analisis tapi terlibat dalam gerakan perlawanan. Ujung dari kehidupan mereka adalah kematian yang tragis. Batas pengorbanan mereka, telah membuat posisi intelektual tidak lagi berjarak dengan penderitan rakyat. Kita sekarang ini memerlukan tangan intelektual yang berani membasuh penderitaan dengan perlawanan. Buku ini hendak menuturkan kembali kisah perlawanan yang sekarang kian padam. Rakyat bukan sekedar butuh orang pintar tapi orang pintar yang berani menderita dan bersama-sama rakyat bertempur melawan penindasan. ”

Akhirnya, buku ini menegaskan sebuah keyakinan serta meneguhkan satu bentuk kesadaran : Saatnya kita menjadi intelektual progresif. Sekarang atau tidak sama sekali!

Dea Tantyo


Responses

  1. inspirasi yang harus diterapkan pada kalangan intelektual masa kini.

  2. berusaha sendiri berat. ada saran?

    • Tahap awal, banyak sharing dan hirup inspirasi dari buku.😉

    • Bangun komunitas. Abad mutakhir hari ini, dibangun dari kolektivitas. Meski tetap berangkat dari tunas-tunas personal. Dan implementasi idealisme butuh strategi dan fleksiblitas.

  3. baiklah, awali dari isu permukaan dulu bagaimana? naiknya TDL, bagaimana menurutmu?

  4. Dalam konteks ekonomi, Naik turun TDL, ga bisa dianalisis secara prematur. Intinya Pemerintah punya alasan untuk menetapkan harga tertinggi (Ceiling price) dan harga terendah (floor price). Yang kemudian jadi salah satu PR-nya adalah membangun rasionalisasi yang tepat untuk masyarakat.

  5. Nah, yang agak kurang saya fahami, relevansi case TDL dengan postingan Saya.🙂. Tapi kalo boleh Saya paksa-coba merespon pertanyaannya… bahwa kaum intelektual progresif tentu harus tanggap dan merespon setiap kebijakan pemerintah, hal ini menegaskan peran intelektual sebagai poros extra-parlementer. Juga sekaligus mengaminkan makna ketiga Tridharma perguruan tinggi. Bahwa gerak seorang terpelajar tak boleh lepas dari kehidupan rakyat. Berasal dari rakyat, maka bergerak pula untuk rakyat. Seperti itu, sedikit makna Intelektual progresif.

  6. wah kyk nya bpleh nh masuk rekomendasi ‘toga mas’ buku yang 1 ini..sekarang lah saat nya untuk menjadi pribadi yang intelektual progresif..

    • Boleh. Berangkat! Buku ane bawa ya.😉

  7. Seseorang tidak akan membangun surga bila bertentangan dengan keinginan masyarakat.

  8. Seseorang tidak akan bisa membangun surga bila bertentangan dengan keinginan rakyat.

  9. Betul. Tapi tidak sepenuhnya benar. Karena dalam beberapa hal, komen mas Prana tipis jaraknya dengan konsep demokrasi. Yang Saya khawatirkan adalah state “Vox populi vox Dei”, Suara Rakyat adalah Suara Tuhan. Nah. Sampai di titik ini, proses ‘membangun surganya’ mungkin bisa dilanjutkan meski ‘bertentangan’ dengan keinginan rakyat. Karena ga selamanya yang banyak itu benar, dan ga selamanya yang sedikit itu salah.

    Ini belum bicara konteks historis tentang pengalaman Rasulullah Salallahu ‘alaihi wa salam dan orang-orang besar lainnya yang membawa perubahan besar dgn berangkat dari keterasingan.🙂

  10. tak lepas dari moral Rosulullah yang sangat mulia. Subhanallah


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: