Posted by: deatantyo | June 23, 2010

Because He Loves What is Behind Him.

“Cintai yang ada di bumi, niscaya kau akan dicintai oleh apa yang ada di langit”

“In the end, the love we take is equal to the love we make” ujar The Beattles, yang terpampang digdaya pada sebuah tembok kota. Bahwa cinta yang akhirnya kita dapatkan, tergantung pada cinta yang kita berikan. Bahkan Allah berjanji akan mencintai mereka yang ikhlas mencintai sesamanya, “Cintai yang ada di bumi, niscaya kau akan dicintai oleh apa yang ada di langit.” demikian Rasulullah menegaskan janji-Nya.

Dalam konteks yang lain. Seorang pemimpin yang baik tentu faham bahwa ia bergerak dalam dimensi cinta. Ia faham bahwa memimpin manusia berarti menjamu mereka dengan cinta. Ia faham bahwa siapapun bisa mencintai tanpa memimpin, tapi tak ada yang bisa memimpin tanpa mencintai. Seperti itu sejarah senantiasa bertutur. Ada Rasulullah yang cintanya melisankan kekata “ummati..ummati..” di akhir hayatnya, beliau khawatir pada kondisi umatnya sepeninggalnya. Seperti itu memimpin dengan cinta. Ada Umar yang cintanya membentuk berkarung-karung gandum yang diangkat dan ia bagikan sendiri untuk rakyatnya. Berkeringat. Berlelah-lelah. Begitu memimpin dengan cinta. Dan berderet kisah lain yang menahbiskan episode cinta seorang pemimpin kepada kaumnya.

Tapi cinta masalah hati. Tidak sederhana. Dan semestinya kitapun faham bahwa ia tak selalu harus berwujud bunga. Penyampaiannya bisa platonik, tak melulu melankolik dramatik. Ia tidak selalu bicara putih. Ia tidak selalu bicara indah. Sebaliknya ia bisa mewujud ketegasan, kritik, bahkan dalam kondisi ekstrim, ia dipendarkan dengan kemarahan. Sebagian kita mungkin menganggapnya salah, karena cinta selayaknya dipantulkan dengan cara yang baik agar tak mencederai pandangan manusia. Tapi logika cinta tak selamanya sama, dan Pemimpin yang baik, tak bicara tentang pesona, tapi bicara tentang kebaikan dan perbaikan. Bukan citra, tapi cinta. Kita menuju Allah, bukan menuju manusia.

Maka bagi saya tiada yang lebih puitis selain bicara kebenaran, kejujuran dan cinta yang apa adanya. Di Jalan ini : Jika dimulai karena Allah, jangan diakhiri karena manusia.

Dea Tantyo

The true man fights not because he hates what is in front of him, but because he loves what is behind him. “Ya, betapa aku mencintai kalian”


Responses

  1. keren!!’

    saya suka tulisan yang ini =)

  2. Alhamdulillah. Nuhun Achyar, semoga bisa menginspirasi.

  3. tulisannya bagus dea, keren, yang ini cukup inspiratif,, makasih ya:)

  4. Alhamdulillah. Nuhun Budi. Semoga bermanfaat bro.😉


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: