Posted by: deatantyo | May 29, 2010

Repotase Padang : Nenek Juara!

“Tiba-tiba seketika kami diam. Terpaku. Membisu. Tak mampu berkata-kata. Dan akhirnya tak kuasa membendung air yang mengalir di sudut mata…”

Oleh : Dea Tantyo

Nenek…

Ingatkah kau Rabu itu, saat pertama kali kami menginjakkan kaki di kampungmu…
Tersirat rona senyummu, melihat kami pulas menghampar tenda di tanah lahirmu. Hampir dua minggu lamanya kami melepas peluh disana, makan seadanya, terpisah dunia, berlelah – lelah menatap semu bahagia. Atau mungkin tanpa sadar kami berbangga seakan paling keras kerja dan upayanya. Hingga kami kau buat malu. Saat tubuh renta itu berkisah tentang seabad menyulam sepi kesabaran, menyulam sabar kesepian. Di rumah tua itu, kau kayuh sendiri semangat 96 tahun usiamu.

Nenek…

Jelas masih terkenang diingatanku, saat dengan gemetar kau hirup hangat shalat lima waktu. Padahal di saat yang sama dengan rendah hati tersembunyi kisah sakit yang kau derita. Ah, nenek, kau luluh lantakkan hati kami saat gelora berdagangmu masih saja mengharumi langit Padang-Pariaman. “penyakit ini membuat nenek berdagang seraya bersandar terlentang” tersirat ujarmu dalam bahasa ibu.

Tiba-tiba seketika kami diam. Terpaku. Membisu. Tak mampu berkata-kata. Dan akhirnya tak kuasa membendung air yang mengalir di sudut mata…

“Nenek, malam ini, bagaimana kabarmu disana?”

——-

Sebuah apresiasi untuk Nenek tercinta di usianya yang ke-96,
Karena mendendangkan kisahmu jauh lebih indah dibanding bercerita tentang upaya kami yang tiada artinya disana. From Minangkabau with love.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: