Posted by: deatantyo | May 29, 2010

Aku Melihatmu Menangis

“Disini, di jalan ini aku merasakan tangismu yang tanpa isak. Yang kau sembunyikan dan kau pendam agar tak ada satu orang pun yang tahu.”

Oleh : Dea Tantyo

Disini, di jalan ini, aku bisa mendengar haru tangismu. Aku mendengar tentang hidupmu yang kian hari kian menjadi biru. Aku merasakan pundakmu yang semakin hari kian merapuh. Lalu Aku mendengarmu. Mendengar setiap kisah hidupmu yang kian hari kian melemahkan bahumu. Kemudian merasakan nafasmu, yang gontai, yang kerap menyesakkan dadamu.

Adakah kau lupa? Sesaat lalu kita pernah bercerita tentang hidup yang senantiasa berputar. Tentang roda nasib yang berganti. Tentang malam yang berubah fajar. Tentang awan, tentang rintik hujan yang perlahan tersenyum memendarkan pelangi. Berhentilah sejenak malam ini. Tenangkan dan rendahkan hatimu di hadapanNya. Kau harus kuat. Kisah kita serupa dan aku disini akan tetap membersamaimu. Kemudian kita pulang, menyingkirkan dunia yang semakin hari semakin menyempitkan jiwa kita.

“Disini, di jalan ini aku merasakan tangismu yang tanpa isak. Yang kau sembunyikan dan kau pendam agar tak ada satu orang pun yang tahu.”


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: