Posted by: deatantyo | May 28, 2010

Teruntuk Bang Arif Munandar

“Karena tatap matamu adalah nilai dan pancaran semangat bagi perjuangan ini.”

Oleh : Dea Tantyo

Ah, beberapa hari ini kelu rasanya mengeja kata saat semua orang bercerita, tentang satu hal yang serupa. Maka tepat pagi itu, aku teringat sebuah kisah, tentang paruh akhir hidup Nabi yang mulia.

Saat itu, Abu Bakar berlutut di samping kursi. Tangannya membuka kain penutup wajah Nabi. Terpaku lama ia memandang wajah Nabi yg mulia. Nafasnya lirih berbisik:
“Wahai junjunganku. Alangkah tampan wajahmu ketika masih hidup dan alangkah tampan wajahmu ketika mati. Seandainya engkau tidak melarang, tentu aku meratapimu lantaran beratnya akan perpisahan ini.”

Titisan air mata mengalir membasahi pipi dan janggutnya. Dia kini menyaksikan sendiri, betapa Rasul yang amat dicintainya telah kembali ke hadirat Ilahi.

Oh, adakah ia sama dengan yang terjadi disini?
di rumah pembinaan ini? PPSDMS yang kucintai.

Abu Bakar kemudian bangun dan melangkah keluar dengan tenang.
Ia menjumpai Umar Al Khatab dan menerangkan keadaan yang sebenarnya. Abu bakar terus melangkah ketempat Umar. Dari jauh Abu bakar melihat Umar yang tinggi tegap, bediri di bawah terik matahari. Pedangnya menantang setiap lisan yang berujar bahwa Nabi mulia telah mati.

Jelas, Abu Bakar tahu perasan Umar. Sulit rasanya menerima kehilangan Rasul yang dicintai. Dia sendiri sedang bergelut dengan kesedihan yang amat dalam. Namun demikian, dia pun berseru dengan nyaring. Seruan itu ditujukan kepada semua yang hadir terutama pada Umar.

“Barang siapa menyembah Nabi Muhammad, sesungguhnya Rasulullah benar-benar telah wafat. Dan barang siapa menyembah Allah, maka Allah tidak pernah mati dan abadi selama-lamanya!”

Analogiku melayang ke satu ranah yang serupa.
Bukankah Arif Munandar seorang manusia biasa?
Maka barang siapa yang terus berharap besar serta meratap padanya, maka saksikanlah Ia telah memilih lepas dari perannya sebagai manajer program. Dan barangsiapa menyandarkan semuanya hanya pada Allah, maka Allah tetap hidup, takkan mati selamanya.

Kemudian Abu Bakar membacakan sebuah firman Allah dalam Al-Quran:
“Dan tidaklah Muhammad itu kecuali seorang Rasul. Sudah berlalu rasul-rasul lain sebelumnya. Kerana itu, Apakah jika Muhammad meninggal dunia atau terbunuh,kamu akan murtad dan kembali kepada agama nenek moyang kamu?. Sungguh barang siapa murtad kembali kepada agama nenek moyang, tidak sedikit pun menimbulkan kerugian kepada Allah SWT. Dan Allah akan memberikan pahala bagi orang-orang yang bersyukur.”
(Ali Imran:144)

Tiba-tiba, Umar terjatuh lemah di atas kedua lututnya. Tangannya menjulur kebawah bagaikan kehabisan tenaga. Keringat dingin membasahi seluruh badanya. Bagaikan baru hari itu dia mendengar ayat yang sudah lama disampaikan oleh Rasul kepada mereka. Kini hatinya benar-benar tersentak. Tidak ada alasan lagi untuk dia menolaknya. Bukankah ia keluar dari mulut ‘As Siddiq’, orang benar lagi membenarkan.

Ah, tidak pantas rasanya melontar nalar dan berkata sebagaimana barusan. Bukankah peran seorang Arif Munandar di Rumah pembinaan ini begitu besar merasuk jiwa raga? Bukankah kehadirannya menjadi nilai tersendiri bagi perjuangan ini? Tidak pantas rasanya, dengan segala kebodohan, kealpaan, serta dosa yang kubuat padanya, dengan seenaknya kusimpulkan senada dengan kerelaan untuk melepas kepergiannya sebagaimana kisah Nabi.

Ah, begitu memalukan sembarang mengait dua kisah yang jelas amat berbeda. Betapa jelas kutatap semut di sebrang lautan, tersamar kulihat gajah di pelupuk. Bukankah aku yang menjadi asal muasal kepergiannya? bukankah aku yang menjadi sebab utama klaim kegagalannya? Bukankah aku, yang menjadi kegalauan sembilu hatinya?

Kepergiannya pastilah berlandas sebab. Dan teranglah, bahwa aku, akulah seutama-utama sebab kepergiannya.

“Oh benarlah baginda telah pergi untuk selama-lamanya. Kau pergi meninggalkan kami yang amat mencintaimu”, rintih hati Umar.
Hari itu jelas menjadi hari yang sepenuhnya berbeda. Dan runtuhlah hati Umar.

Arif Munandar, Ayahku, Saudaraku, Abangku…
Maafkan aku atas apa yang terjadi padamu, adalah rombeng imanku yang membuatmu disergap gelombang pilu. Bahkan akhirnya tak pantas lisanku berkata menerka-nerka kepergianmu. Menusukmu dengan ribuan penilaian kami terhadap keputusanmu.

Tapi tentu kau tahu,
Walau mungkin tak sebesar cinta Abu Bakar atau Umar pada Rasulullah, betapa kamipun disini mencintaimu.

Oleh karena itu izinkan satu pintaku…
Rela kiranya kau kembali untuk sekedar tertawa, menangis, serta marah atau bahkan sekedar duduk bersama di sini, di rumah ini, di rumah pembinaan PPSDMS yang kita cintai. Bukan untukku, bukan untuk kau, bukan untuk siapa…

Tapi untuk Indonesia yang lebih baik dan bermartabat serta kebaikan dari Allah pencipta alam semesta. Itu saja.

Dan tangis kecintaan tersebut terus merambat ke hati para sahabat dan ke seluruh hati umat hingga akhir zaman. Kecintaan orang beriman kepada Rasulnya yang tidak pernah putus sekalipun oleh kematian karena kecintaan atas dasar iman itu tetap lestari dan abadi.

Baginda telah berangkat dengan tenang meninggalkan umatnya yang telah dibekalkan dengan panduan hidup yang kukuh yaitu dua pusaka, Al-Quran dan As-sunnah. Dan tidak sesat umatnya apabila tetap berpegang teguh kepada dua pusaka tersebut. selamanya.

“Aku tinggalkan kepada mu dua pekara, barangsiapa berpegang kepada kedua-duannya, tidak akan sesat selama-lamanya,yaitu Kitabullah dan Sunnahku.”

-Teruntuk Bang Arif Munandar-
“Karena tatap matamu adalah nilai dan pancaran semangat bagi perjuangan ini.”


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: