Posted by: deatantyo | May 28, 2010

Politik : Jabatan & Kekuasaan??

“Kalian akan berebut untuk mendapatkan kekuasaan. Padahal kekuasaan itu adalah penyesalan di hari Kiamat, nikmat di awal dan pahit di ujung”.

Oleh : Dea Tantyo

“Politik adalah sejarah yang bersayap, ia -terekam jelas dalam panggung sejarah- mampu membangkitkan semua sifat termulia dalam jiwa manusia, sekaligus membangunkan semua sifat manusia yang terhina.” (Marcus Cicero, orator brilian Romawi)

Banyak orang yang tentu tidak asing lagi mendengar istilah ini. Berbagai rupa definisi, dari banyak tokoh dengan asal muasal yang berbeda dalam ratusan bahkan ribuan literatur banyak membahas tentang hal ini. Bagi kita sendiri, mungkin saja politik memiliki sayap-sayap konotasi. Ada yang menganggapnya baik, ada pula yang menganggapnya buruk. Sebagian menganggap perlu, yang lain mengaggapnya membosankan. Sebagian menganggap kotor, lalu mencemooh, tapi lebih banyak lagi, orang yang memperebutkan. Komoditas ini tampak populer karena ia sering disalahkaprahi sebatas jabatan-kekuasaan. Dimana setiap orang, bagaimanapun kondisinya, boleh mendapatkannya.

Pada suatu hari, Abu Dzar al-Ghifari meminta kepada Rasulullah SAW agar diangkat menjadi pejabat. Tapi, Nabi SAW menolaknya. Sambil menepuk-nepuk pundak sahabatnya itu, kepadanya Nabi SAW berkata, ”Tidak, Abu Dzar, engkau orang lemah. Ketahuilah, jabatan itu amanah. Ia kelak di hari kiamat merupakan kehinaan dan penyesalan, kecuali bagi orang yang mendapatkannya dengan benar dan melaksanakan tugas dan kewajibannya dengan benar pula.”
(HR Bukhari).

Menurut Imam Nawawi, politik dapat menjadi sumber petaka bagi orang yang tidak mampu dan tidak bertanggung jawab. Sebaliknya, kata beliau, politik dapat pula menjadi ladang pengabdian dan amal saleh yang subur bagi orang yang mampu dan bertanggung jawab. Ia ibarat pisau bermata dua; bisa baik dan buruk.

Marcus Cicero, salah satu negarawan dan orator brilian Romawi, pernah berkata bahwa Politik adalah sejarah yang bersayap, ia -terekam jelas dalam panggung sejarah- mampu membangkitkan semua sifat termulia dalam jiwa manusia, sekaligus membangunkan semua sifat manusia yang terhina.

Sehingga menjadi satu catatan bahwa politik dalam kemasan jabatan dan kekuasaan tentunya membawa output, baik maupun buruk. Ia akan berbuah baik dan manis ketika :

1. Berada di tangan orang yang tepat (capable),
2. Diperoleh dengan cara yang benar (acceptable ),
3. Dipergunakan bagi sebesar-besar kesejahteraan rakyat (responsible).

Dan sebaliknya, ketika ia disematkan kepada tangan yang salah dan tidak amanah, niscaya ia membawa kehancuran, bukan hanya pada mereka yang dibawahi (umat), tapi juga kepada mereka yang mengembannya.

“Jangan Sekali-kali berbuat dholim, jika kamu diberi kekuasaan” kata Ali bin Abi Thalib R.A,
“karena kedholiman adalah sumber kejahatan yang menyebabkan penyesalan. Boleh jadi matamu tertidur pulas, sedangkan mata orang teraniaya selalu terjaga, mendoakan kamu (dengan keburukan) sedangkan Allah tidak pernah tertidur.”

Tulisan ini tidak ditujukan untuk membahas tentang ketepatan makna hakiki politik. Bukan pula ingin menyimpulkan satu pendefinisian beserta derivat-derivat yang benar tentang politik. Bukan itu, karena tulisan ini sangat jauh dari ideal untuk membahas politik secara komperehensif.

Tulisan ini hanyalah sebuah wacana sederhana yang diniatkan sebatas pengingat, bahwa politik, yang dinisbatkan dengan jabatan-kekuasaan sejatinya senantiasa membawa efek dan konsekuensi. Politik terlalu luas untuk dipahami sebatas otoritas tahta atau bahkan sebuah komoditas ‘murah’. Tapi lebih dari itu, ia merupakan sesuatu yang sepatutnya diemban oleh mereka yang bersungguh-sungguh serta bertanggung jawab dalam menjalankannya. Karena sepakatlah kita bahwa ia-lah amanah, amanah besar yang kelak pasti dipertanggungjawabkan.

Akhirnya, tentang ini Rasul mulia bersabda,
“Kalian akan berebut untuk mendapatkan kekuasaan. Padahal kekuasaan itu adalah penyesalan di hari Kiamat, nikmat di awal dan pahit di ujung”.

Ah, betapa berat kekuasaan. Terutama bagi mereka yang menyiakan amanah. Lalu serugi itukah mereka yang memperoleh kekuasaan? Tidak seluruhnya. Bagi orang-orang yang amanah dan berjuang dalam al haq, Rasullullah melanjutkan…

“…kecuali bagi orang yang mengambilnya dengan cara hak serta menunaikan kewajiban yang terpikul di atas bahunya”. (HR Muslim)

Ya Allah, kuatkan kami, untuk mengemban setiap amanah yang kau sematkan.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: