Posted by: deatantyo | May 28, 2010

Tunangan Yang Mengecewakan

Masih mau Pacaran setelah membaca ini?

Merpati tak pernah ingkar janji. Sebaliknya kumbang doyan ingkar janji. Namun cintaku bukan barang loakan yang bisa dijual murah. Aku adalah seorang perempuan yang memiliki harga diri. Cintaku tak terbatas waktu, penantianku adalah kesetiaanku, namun kumbang menyia-nyiakanya, dia bersanding dengan bunga yang lain.

Hubungan itu terjalin ketika kami lulus SMU. Saat itu dia yang duluan mengungkapkan cinta. Aku menerimanya karena dia oranga yang baik dan keluarganya orang yang aku kenal. Dia tinggal di kampung sebelah. Saat sekolah dulu kami selalu satu sekolah sekalipun kami tak pernah sekelas. Sebenarnya dari dulu aku naksir dia, namun aku adalah bunga yang hanya bisa menunggu kumbang datang menghampiri.

Saat cinta bersemi, hidup ini begitu indah. Malam selalu betabur bintang dan hari-hari aku lalui dengan penuh suka cita. Mimpi indah aku alami, saat kami bersanding di pelaminan suci, dia menghisap maduku dengan sjuta kemesraan. Bagiku dia adalah cinta pertama dan kumbang yang aku dambakan. Aku cinta pertama baginya.

Setahun hubungan, kami resmi tunangan. Inginya segera menikah, aku berharap, saat ia pergi ke tempat jauh aku bisa ikut. Namun saat hubungan berjalan dua tahun, kami belum juga menikah. Hingga akhirnya dia pergi untuk panggilan kerja ke pulau seberang. Sesuai kontrak kerja ia akan pergi selama lima tahun.

Saat pamitan dia menangis, dan menyalami semua keluargaku. Sementara aku yang akan ditinggalkan jauh oleh kekasih hanya bisa diam dengan hati yang berat untuk melepaskanya. Dia berjanji setelah pulang nanti segera menikahiku dan keluargaku setuju saja.

Tinggallah kini aku dalam penantian dengan penuh rasa was-was seolah menanti sesuatu yang tak pasti. Kadang muncul pikiran negatif, namun segera aku tepiskan. Terkadang pula mimpi buruk hingga tak sadar aku menangis, namun terpikir itu hanya kembang tidur.

Menanti adalah pekerjaan yang membosankan. Andai saja waktu itu aku memutuskan untuk berhenti kuliah, mungkin aku akan sangat kesepian. Tapi dengan banyaknya kesibukan, membuatku terbiasa dengan rasa sepi itu. Apalagi dalam tahun pertama, sebulan dua kali dia berkirim surat. Aku pun sudah terbiasa, jika datang tukang pos pasti ada surat dari dia.

Pada idul fitri tahun kedua dia pulang. Kami sambut dengan suka cita. Tak lama kemudian berangkat lagi. Tahun ketiga berlalu. Tahun keempat aku rasakan komuikasi itu agak berkurang. Aku yang sering kirim surat kadang jarang dibalas, namun kebanyakan tak pernah dapat dibalas. Tapi aku rasakan hubungan kami tetap baik.

Pada tahun kelima hanya dua kali dalam tahun itu ia kirim surat. Masa kontraknya berakhir ia pulang juga. Keluarganya menunggu hingga akhirnya dapat kabar ia mendapat kerja tambahan setengh tahun. Aku kecewa karena ia tidak memberitahukan kepadaku padahal seluruh keluargaku telah siap-siap menyambutnya.

Ibuku bilang, segera saja laksanakan pernikahan setelah ia datang. Tidak baik terlalu lama pacaran. Aku setuju saja, apalagi aku anak perempuan satu-satunya dan orang tua ingin segera menimang cucu dariku. Seluruh keluargaku bersiap-siap menanti kedatangan dia yang hanya sebulan lagi.

Penyambutan rencananya dipusatkan di rumah keluarganya. Aku dan seluruh keluargaku diundang, sementara yang menjemput ke terminal cukup kakak dia saja. Semua rencana indah itu begitu matang dipersiapkan. Aku sendiri telah mempersiapkan jauh-jauh hari termasuk kemungkinan ia ingin segera melangsungkan pernikahan.

Saat waktunya tiba aku menemukan keganjilan. Kakaknya yang menjemput dia menyarankan agar aku menunggu di rumah saja, katanya ada kejutan. Secara mendadak aku dibawa kerumhku namun keluargaku tetap di sana.Aku menanti ada apa gerangan. Aku telah membayangkan ia pasti akan datang ke rumahku dengan seribu rasa rindu, sejuta rasa cinta. Pokoknya surprise.

Tak lama kemudian, aku dikagetkan dengan suara pintu ditabrak seseorang. Ternyata yang datang ayah dan seluruh keluargaku dengan wajah merah padam. Ibuku langsung mendekapku dan menangis sejadi-jadinya. Aku tidak tahu duduk masalahnya hanya terdiam dengan seribu tanya.. Sementara ayah dan kakak-kakakku duduk di kursi tanoa mengeluarkan sepatah kata pun. Hingga beberapa saat lamanya keadaan hening.

Sesaat kemudian aku bertanya untuk memecahkan keheningan. Kakak laki-lakiku yang pertama mengajak ke ruang tamu. Dengan terlebih dulu meminta izin ayah untuk menjelaskan. Dia menjelaskan dengan sangat hati-hati. Lambat laun penjelasannya bikin aku bingung, sebab menyebut-nyebut agar aku melupakannya. Kakak bilang dia bukan jodohku.

Di akhir pembicaraan, barudarahku naik dan tak sadarkan diri. Saat sadar tak kuasa menahan tangisan. Seluruh keluargaku berkumpul dikamarku dengan wajah murung. Ayah bilang dirinya merasa di hina. Laki-laki itu menurut ayah penghianat. Penantianku selama lima tahun ternyata sia-sia belaka. Tanpa pengetahuanku dan dan keluargaku, dia menikah di tempat kerja dengan bawahannya. Menurut pengakuannya, pernikahan itu telah berlangsung dua tahun. Kini dia membawa dua orang anak. Anak yang kedua masih bayi. Ternyata tambahan waktu enam bulan bukan ada tambahan kerja, melainkan menunggu anak kedua lahir.

Sehari kemudian keluarga dia datang meminta maaf bahwa semuanya di luar dugaaan, namun ayahku yang masih emosi tetap belum menerima kenyataan ini. Pasalnya jika dia tidak serius bilang saja sejak dulu, aku tentu akan dinikahkan dengan seorang laki-laki yang menurut bapak jauh lebih baik dari segi ekonomi dan agama daripada laki-laki penghianat itu.

Setahun berlalu, aku baru melihat dia keluar menampakkan diri. Dalam hatiku tidak ada lagi kata-kata kecuali penyesalan telah mengenal orang itu. Pengalaman ini aku catat dalam setiap relung waktu bahwa cinta memang tidak harus bersatu. Lima tahun lamanya aku menanti, yang aku rasakan hanya kepedihana. Andai saja waktu bisa berputar ke belakang ingin rasanya mengembalikan cinta ini biar aku tak menderita seperti ini.

(Sumber: Romantika Remaja – Abu al Ghifari)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: