Posted by: deatantyo | May 26, 2010

Meretas Jalan Demonstrasi Elegan

“The true man fights not because he hates what is in front of him, but because he loves what is behind him.

Oleh : Dea Tantyo Iskandar

Tentu belum hilang diingatan kita kerusuhan yang dilakukan beberapa mahasiswa Makassar beberapa waktu lalu. Seperti mati satu tumbuh seribu. Usai insiden Makassar, masih saja bermunculan aksi rusuh mahasiswa di beberapa daerah di Indonesia. Seakan tidak mengambil pelajaran dari berbagai insiden tersebut, peristiwa kerusuhan yang dilakukan mahasiswa berkedok aksi demonstrasi masih saja berulang.

Ya, begitu miris menyaksikan apa yang terjadi di Indonesia akhir-akhir ini. Praktik demonstrasi seakan menampilkan wajah Goliath-nya. Apa yang terjadi di Makassar menjadi sebuah contoh, betapa demokrasi disalahtafsirkan melalui anarkistis demonstrasi. Citra demonstrasi pun perlahan semakin terperosok ke dalam cemoohan masyarakat.

Jika kita mencoba berfikir terbuka dan mencoba menelisik lebih dalam, tentu ada beberapa pertanyaan kontemplatif terkait demonstrasi; Apakah seluruh praktik demonstrasi selalu bersifat anarkis dan menanggalkan etikanya? Masih relevankah praktik demonstrasi pada kondisi kekinian? Benarkah tidak ada lagi harapan untuk sebuah elegansi demonstrasi? Untuk menjawab hal ini ada beberapa hal yang harus kita perhatikan.

Pertama, tentu tidak fair menjadikan human error sebagai justifikasi citra keseluruhan. Dalam bukunya, Rekayasa Sosial, Jalaluddin Rahmat menampilkan sebuah istilah yang disebut Fallacy of dramatic instance yaitu penggunaan satu dua kasus untuk mendukung argumen yang bersifat umum. Berfikir dengan satu sudut pandang seperti ini tentu sangat tidak dianjurkan. Karena generalisasi dalam konteks ini akan mencederai identitas keseluruhan. Apa yang terjadi di Makssar atau dalam beberapa praktik demonstrasi yang berujung pada tindak anarkis, tidak secara otomatis menyamakan seluruh demonstrasi dengan tampilan kekerasan. Hal ini mengingat masih banyak aksi demonstrasi yang berlangsung elegan tanpa menanggalkan etika, baik terliput atau tidak diliput media, dan seperti itulah idealnya demonstrasi.

Kedua, kita sepakat bahwa demonstrasi yang merusak dan mengancam hak hidup orang lain merupakan tindakan tidak manusiawi. Terlebih jika berdampak kerugian kolektif secara material atau moril bagi masyarakat luas. Jelas, ini bukan makna sesungguhnya dari demonstrasi. Paradigma ini yang perlu diluruskan, bahwa demonstrasi yang demokratis sama sekali berbeda dengan aksi anarkis. Sehingga sangat disesalkan jika ada aksi-aksi anarkis yang mengatatasnamakan demokrasi karena hal itu akan mencoreng nilai demonstrasi yang sebenarnya.

Ketiga, aksi demonstrasi umumnya dilatarbelakangi oleh matinya jalur penyampaian aspirasi. Dalam trias politica, aspirasi rakyat diwakili oleh anggota legislatif. Namun dalam kondisi pemerintahan yang korup, para legislator tak dapat memainkan perannya, sehingga aspirasi hanya sampai di pangkal tenggorokan rakyat. Atas dasar itu, sebagai gerakan ekstraparlementer mahasiswa memiliki kewajiban moral untuk mengimplementasikan pengetahuannya dalam bentuk pengabdian kepada masyarakat, atau dengan kata lain menyuarakan kebenaran demi kepentingan rakyat.

Keempat, aksi demonstrasi sendiri bukan berlangsung tanpa landasan hukum. Praktiknya dilindungi oleh UU positif. Selain dipayungi Declaration of Human Right (freedom of speech), prosesnya juga dilindungi UUD 1945 pasal 28 beserta amandemennya. Itu artinya hak bersuara atau aksi demonstrasi sebagai turunannya dapat dikatakan legal secara hukum. Namun dengan catatan bahwa prosesnya harus konsisten mengacu pada hukum yang ditetapkan. Adapun aksi brutal yang menyebabkan kerugian, bahkan hingga menelan korban jiwa jelas melanggar hukum.

Dari beberapa hal diatas, dapat ditarik sebuah catatan kecil bahwa tidak ada yang keliru dengan demonstrasi, terlebih demokrasi memfasilitasi demonstrasi sebagai media aspirasi politik selama prosesnya diaminkan dengan jalan yang etis dan demokratis. Akhirnya, mengutip G.K. Chesterton (1874-1936), “The true man fights not because he hates what is in front of him, but because he loves what is behind him. Ya,sejatinya demonstrasi tidak dilakukan sebagai ajang untuk mempertontonkan kebrutalan atau kebencian, melainkan sebuah perjuangan untuk menyuarakan cinta dan kebenaran dengan damai. Dari sanalah kemudian kita meretas jalan menuju demonstrasi yang elegan.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: