Posted by: deatantyo | May 26, 2010

Kewirausahaan : Menuju Indonesia Maju

“We are in the midst of a silent revolution -a triumph of the entrepreneurial spirit of humankind throughout the world. I believe its impact on the 21st century will equal or exceed that of the Industrial Revolution in the 19th and 20th”

(Jeffry A. Timmons, The Entrepreneurial Mind)

Oleh : Dea Tantyo

Hari ini kita sedang berhadapan dengan sebuah era kewirausahaan yang membawa dampak luar biasa bagi suatu negara di tengah konstelasi dunia. Pernyataan Jeffry A. Timmons (1941-2008), menegaskan pada kita bahwa daya tahan suatu negara terkait erat dengan kemajuan aspek kewirausahaan. Maka era ini sepatutnya menjadi rambu-rambu bagi Indonesia untuk segera “ngeh” pada aspek kewirausahaan.

Bukan berita baru apa yang dikemukakan David McClelland dalam bukunya The Achieving Society, bahwa diperlukan sedikitnya 2% pengusaha sebagai prasyarat makmurnya suatu negara. Bahkan Joseph Schumpeter, ekonom Austria (1883-1953), menempatkan konsep kewirausahaan pada kedudukan yang sangat penting dalam pembangunan suatu negara. Hampir seluruh negara maju di dunia telah berhasil mengaminkan hal ini. Negara-negara di Eropa dan Amerika, juga negara – negara yang sedang berkembang pesat di Asia telah memiliki jutaan wirausaha. Ironisnya, ini belum terjadi di Indonesia.

Mengacu pada data yang dilansir BPS, bahwa angka kemiskinan Indonesia hingga tahun 2009 mencapai lebih dari 32,53 juta orang. Angka ini semakin lengkap dengan adanya pengangguran dalam jumlah besar-sebagai manifestasi timpangnya jumlah lapangan kerja dengan jumlah tenaga kerja. Berangkat dari kondisi diatas tentu kita sepakat bahwa kewirausahaan menjadi jalan utama demi mengentaskan masalah tersebut, sekaligus sebagai upaya membentuk Indonesia maju.

Melahirkan Wirausaha

Melahirkan wirausaha baru bukanlah sesuatu yang sederhana, namun bukan pula sesuatu yang mustahil. Semua dapat terealisasi dengan adanya gerakan kolektif dari berbagai aspek, baik dari sisi individu maupun pemerintah. Terkait hal ini setidaknya ada beberapa hal yang harus diperhatikan. Pertama, dibutuhkan reformasi paradigma bahwa kewirausahaan bukan hanya sekedar pengetahuan tentang berbisnis, lebih dari itu kewirausahaan merupakan karakter atau sikap hidup yang diterjemahkan melalui pola pikir kreatif, inovatif, dan proaktif dalam menangkap peluang. Sehingga pada dasarnya tidak harus selalu berpendidikan tinggi untuk dapat berwirausaha. Perlu motivasi agar masrarakat sadar dengan kewirausahaan. Mengutip Muhammad Yunus, peraih Nobel Perdamaian 2006, “semua orang adalah pengusaha, namun banyak yang tidak memililki kesempatan untuk mengetahui itu.”

Kedua, pada sisi akademik, kurikulum pendidikan harus mampu mengembangkan minat dan membuka ruang untuk praktik di lapangan, dimana kurikulum yang diberikan bersifat implementatif, tidak sekedar teoritis. Proses pengajaran harus memberi gambaran terang tentang kondisi pasar kekinian, kecenderungan dan potensi bisnis yang sedang berkembang, serta materi aplikatif tentang proses pemasaran dan sebagainya.

Selain itu, perlu adanya sosialisasi masif kurikulum kewirausahaan yang tidak terbatas pada ranah bidang studi. Artinya jurusan teknik atau kedokteranpun harus merasakan kurikulum kewirausahaan, agar minimal terbentuk motivasi awal untuk berwirausaha bagi mahasiswa. Hal ini mengingat banyaknya pengangguran terbuka dari kalangan sarjana. Dari data yang dilansir BPS, hingga Februari 2009, Sarjana yang menganggur meningkat menjadi 12,94 persen, yaitu sebesar 626.621 orang, dibanding bulan Agustus 2008 yaitu sebesar 598. 318 orang. Pada Agustus 2009, jumlah pengangguran terbuka dari kalangan sarjana kembali meningkat menjadi 13,08 persen. Bahkan versi lain mengungkapkan pengangguran sarjana di Indonesia mencapai 1,1 juta orang. Ini merupakan angka yang jelas sangat mengkhawatirkan.

Ketiga, institusi pendidikan idealnya menjadi inkubator bagi peserta didik agar siap menjadi seorang wirausaha. Caranya dengan memfasilitasi pembinaan kewirausahaan secara intensif, integratif, dan berkelanjutan. Selain pemberian materi pendidikan dan pelatihan kewirausahaan, universitas juga memberi pinjaman modal usaha, agar mahasiswa mampu mengimplementasikan di lapangan. Proses itu diiringi dengan evaluasi secara berkala serta pembinaan yang berkelanjutan saat proses berlangsung. Di sisi lain, universitas juga menciptakan iklim kewirausahaan yang kental di kampus, dengan menjadikan kampus sebagai Center of Enterpreneurship. Dalam hal ini kita bisa mencontoh Harvard dan Stanford University yang telah menyulap kampusnya tidak hanya sebagai institusi pendidikan konvensional tetapi juga sebagai pusat bisnis. Sebagai catatan, aset Harvard dan Stanford University masing-masing senilai US$29 miliar dan US$34 miliar dari proses usahanya saja.

Keempat, dalam tahap implementasi, adanya akses pasar yang masih menjadi kendala klasik, dapat ditutupi pemerintah dengan kebijakan dan reformasi birokrasi untuk mendorong kemudahan berusaha. Terkait hal ini, dari data International Finance Corporation 2010, Indonesia menempati posisi 122 dari 183 negara dalam tingkat kemudahan berbisnis. Ketertinggalan ini tentu harus direspon dengan pembenahan regulasi oleh Pemerintah, misalnya dengan kemudahan membayar pajak, perizinan yang lebih dinamis, serta kemudahan dalam permodalan.

Lompatan Kuantum

Jeffry A. Timmons, menjelaskan dalam bukunya The Entrepreneurial Mind “the entrepreneurial process is not just about new companies, capital, and jobs. It’s also about fostering an ingenious human spirit and improving humankind.” Menurutnya, proses kewirausahaan bukan hanya tentang perusahaan baru, modal, dan pekerjaan. Tetapi juga tentang memupuk semangat manusia yang cerdik dan memperbaiki umat manusia. Pernyataan ini tentu memberi ruang bagi kita untuk berkontemplasi bahwa kewirausahaan memiliki sebuah nilai mendasar untuk mengembangkan sumber daya manusia secara individu menjadi kebermanfaatan kolektif. Telah menjadi rahasia umum bahwa majunya AS, India, dan Singapura terkait erat dengan menjamurnya jumlah pengusaha di dalam negeri sebagai representasi sumber daya manusia unggul.

Dengan mencermati beberapa aspek diatas, sepatutnya kita sadar, bahwa kewirausahaan menjadi seperti tongkat estafet yang secara bertahap mampu mengurai permasalahan Indonesia. Dan tentu kita berharap bahwa aspek-aspek penunjangnya dapat berlaku di negeri ini, sehingga lahirlah wirausaha-wirausaha baru yang siap ber-marathon menuju perbaikan Indonesia. Kewirausahaan memang bukan segala-galanya, tapi pemecahan masalah ekonomi bisa dipetik melalui kewirausahaan. Meminjam istilah Bpk. Ciputra, bos Ciputra Grup, bahwa kewirausahaan merupakan “lompatan kuantum” untuk menanggulangi kemiskinan dan pengangguran, serta merupakan langkah konkret menuju Indonesia maju.

Akhirnya, Semoga kitapun tak lupa, bahwa kemajuan fenomenal Inggris melalui revolusi industri, melibatkan sejumlah besar pengusaha. Ah, Bukankah kita ingin juga kesana?


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: