Posted by: deatantyo | May 25, 2010

Kabinet Reshuffle Bersatu

“Jangan sampai alih-alih memperbaiki kabinet, adanya reshuffle malah menegaskan produk baru pemerintah berupa eksistensi Kabinet Reshuffle Bersatu yang tak jelas kemana arah tujuannya.”

Dimuat di Harian Seputar Indonesia edisi 15 February 2010 dan website Okezone.com

Oleh : Dea Tantyo

Rasanya tidak ada kosakata yang paling hangat diperbincangkan dalam konteks eskalasi pemerintahan Indonesia saat ini selain kata “Reshuffle”. Setelah sebelumnya bangsa ini dihujani dengan berbagai macam diksi dari mulai “sistemik”, “bail-out” hingga “pemakzulan”-yang menjadi rahim lahirnya isu reshuffle.  Kini kata ‘reshuffle’ menjadi isu sentral sekaligus menjadi bola panas yang sedang dicermati banyak pihak kemana arah bergulirnya.

Bermula dari hiruk pikuk kasus Bank Century yang tak kunjung usai, ditambah adanya wacana pemakzulan Presiden yang dihembuskan sejumlah anggota partai koalisi SBY-Boediono seiring persidangan pansus Century, menyulut Partai Demokrat melontar isu perombakan pada Kabinet Indonesia Bersatu II. Isu ini kemudian terus menghangat hingga memancing banyak pendapat dari berbagai pihak.

Berbicara tentang reshuffle setidaknya ada beberapa hal yang perlu kita cermati. Pertama, pada dasarnya tidak ada yang keliru dengan proses reshuffle, terlebih hal itu merupakan hak prerogatif presiden yang dinilai wajar selama merupakan pengejewantahan itikad baik dan sungguh-sungguh untuk memperbaiki kondisi bangsa yang sedang terpuruk ini, dengan tentunya kinerja menteri yang dijadikan pertimbangan perombakan. Namun demikian mengingat umur pemerintahan Kabinet Indonesia Bersatu II yang belum lama, agak sulit rasanya menimbang mutlak tingkat keberhasilan kinerja menteri yang bersangkutan. Pada titik ini, perlu ada pertimbangan yang matang dan cermat untuk mengambil keputusan reshuffle.

Kedua, adanya isu reshuffle, sedikit banyak akan mempengaruhi kinerja kabinet. Isu yang terus dibiarkan mengambang akan menimbulkan resonansi negatif pada publik serta rasa “waswas” bagi jajaran kabinet. Hal ini tentu mengganggu stabilitas kinerja para menteri. Fokus kerja kabinet akan mengalami disorientasi pada isu pencopotan. Ini menjadi dinamika politik yang justru tidak menguntungkan bagi presiden.

Ketiga, menjadi tidak wajar ketika reshuffle diaminkan sebatas retorika politik presiden yang diam-diam merupakan reaksi atas seberang pendapat mitra koalisi di parlemen. Dengan kata lain pewacanaan reshuffle merupakan “balas dendam” pemerintah atas isu pemakzulan yang dihembuskan panitia angket Century. Pada titik ini, perlu dipertimbangkan setidaknya dua hal : Pertama, pendefinisian ulang paradigma koalisi. Benar bahwa gentlemen’s agreement yang ideal atas kesepakatan koalisi  sepatutnya tidak dikotomis antara ranah legislatif dan eksekutif. Namun demikian mekanisme koalisi seyogyanya tidak menghilangkan independence critical thinking antar partai yang berkoalisi. Sehingga masih terbuka ruang untuk terjadi perbedaan pendapat untuk saling mengoreksi. Kedua, adanya pengguliran isu reshuffle yang dikeluarkan partai demokrat, dapat dikatakan sebagai fear arising communication – komunikasi politik yang dimaksudkan untuk membangkitkan ketakutan lawan. Sayangnya, teori komunikasi politik ini seringkali tidak efektif dan kadang menjadi blunder bagi pemerintah. Hal ini pernah diterapkan oleh mantan presiden Abdurahman Wahid, yang malah berakibat pada pemerintahnnya yang dipaksa berhenti ditengah jalan.

Reshuffle memang tidak lagi menjadi sesuatu yang tabu di negeri ini. Bahkan praktiknya telah diperkenalkan sejak pemerintahan presiden Soeharto. Namun  yang menjadi catatan adalah bagaimana proses ini memberikan pengaruh signifikan bagi kemajuan roda pemerintahan.

Akhirnya ada atau tidak reshuffle nantinya, semoga membawa perbaikan kualitas sekaligus memberi angin segar bagi progresivitas kabinet Indonesia Bersatu II. Kalaupun ada, reshuffle haruslah berlangsung dengan parameter yang jelas dan rasional agar tidak jauh panggang dari api. Jangan sampai alih-alih memperbaiki kabinet, adanya reshuffle malah menegaskan produk baru pemerinah berupa eksistensi “Kabinet Reshuffle Bersatu” yang tak jelas kemana arah tujuannya.


Responses

  1. Kerem akh…🙂

  2. Keren akh…🙂

  3. Alhamdulillah, masih belum ada apa-apanya dibanding blog Achyar.😉


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: