Posted by: deatantyo | May 25, 2010

Demonstrasi Tanpa Rasionalitas

“Demonstrasi yang sejatinya membawa segenap pesan rakyat, malah menampilkan sosok goliath-nya.  Alih-alih mengail simpati publik, mahasiswa malah saling berkonfrontasi dengan rakyat. Citra demonstrasi pun semakin terpelosok…”

Oleh : Dea Tantyo Iskandar

Seperti serba salah menatap dinamika demokrasi Indonesia. Tentu kita ingat, ketika orde baru menampilkan wajahnya yang begitu “ekslusif”, masyarakat, mahasiswa, maupun media tak mampu dan tak boleh bergerak banyak untuk mengoreksi pemerintah. Suara dibungkam, sikap kritis menjadi tabu. Kebebasan berpendapat menjadi sebuah harga yang mahal, yang hanya berhenti di pangkal tenggorokan rakyat.

Hingga sampai pada titik kulminasi di tahun 1998, saat berbagai elemen masyarakat khusunya mahasiswa, melalui demonstrasi meledakkan sebuah reformasi besar yang menjadi salah satu tonggak sejarah negeri ini–terlepas dari berbagai isu konspirasi asing. Setelahnya suara-suara kritis pun nyaring terdengar, tidak lagi sebatas sayup-sayup gema. Mulai saat itu, meminjam istilah ekonomi, Indonesia unggul dalam comparative advantage produktivitas demonstrasi.

Waktu berlalu, setelah lebih dari satu dasawarsa melompati lima kali pergiliran kuasa mulai dari Megawati hingga presiden SBY,  demonstrasi masih menjadi pilihan untuk menyuarakan hitam dan merah pemerintah. Kali ini beda. Demonstrasi tidak lagi secerdas dahulu, namun telah menjadi semakin anarkis dan tak berarah. Perlahan tapi pasti, anarkitis malah berlinear dengan praktik demonstrasi.

Teranyar, apa yang kita saksikan di Makassar. Demonstrasi yang sejatinya membawa segenap pesan rakyat, malah menampilkan sosok “goliath”-nya.  Alih-alih mengail simpati publik, mahasiswa malah saling berkonfrontasi dengan rakyat. Citra demonstrasi pun semakin terpelosok dan malah melahirkan skeptisisme masyarakat. Lalu timbulah berbagai pertanyaan : Apa tujuan demonstrasi jika prakteknya sedemikian brutal? Masih relevankah praktik demonstrasi pada kondisi kekinian? Berbagai pihak pun mulai membanding-bandingkan output demonstrasi dengan upaya-upaya lain yang dianggap lebih konkret. Harga demonstrasi seketika anjlok.

Hakikatnya, tidak ada yang salah dengan demonstrasi. Apalagi demokrasi memfasilitasi demonstrasi sebagai media ekspresi warga dalam konteks partisipasi politik. Bahkan urgensinya semakin tampak, jika kita meneropong berbagai peristiwa yang terangkum sejarah ; Revolusi Prancis, Revolusi Amerika Serikat, Peristiwa People Power di Filipina, dan perjuangan-perjuangan kemerdekaan di seantero dunia, hingga Peristiwa 1966 dan 1998 di Indonesia menegaskan bahwa demonstrasi adalah proses yang wajar dan bahkan kontributif bagi perbaikan suatu bangsa, terlebih jika dihadapkan dengan pemerintahan tirani yang rusak dan menyimpang. Pada titik ini, biaya yang dikeluarkan menjadi sebanding dengan output yang dihasilkan.

Sayangnya, kondisi itu berlawanan dengan yang terjadi di Indonesia. Aksi-aksi demonstrasi hari ini malah mengundang cemoohan akibat kerugian kolektif secara material atau moril bagi masyarakat luas. Pelaku demonstrasi seakan bergerak tanpa rasionalisasi aksi terkait agenda demonstrasi. Masa aksi menjadi terlampau ekspolosif. Oknum pelaku seperti datang dari suatu komunitas yang telah terinternalisasi dengan nilai dan ide kekerasan sehingga menjadi radikal. (Meliala, 2001) Imbasnya, demonstrasi kehilangan esensi, kemudian berkembang menjadi sesuatu yang harus ditangani secara keras.

Kondisi ini tentu menuntut kita berlomba dengan waktu dalam membenahi sikap anarkis demonstrasi mahasiswa. Hal ini mengingat, demonstrasi yang anarkis akan berefek domino bagi citra mahasiswa. Padahal sejatinya, demonstrasi ideal bukanlah sesuatu yang dilaksanakan dengan bahasa kekerasan dan menafikkan kesantunan, melainkan sebuah kewajiban moral yang dilakukan secara elegan dengan bersandar pada manajemen aksi yang matang serta rasionalisasi yang holistik dalam memandang gejala pemerintahan. Dengan demikian demonstrasi masih akan menjadi pilihan yang bijak dalam menjaga konsistensi dan progresivitas pemerintah. Tentu dengan satu landasan : menyuarakan kebenaran atas nama Rakyat Indonesia.


Responses

  1. DAJJAL TELAH MUNCUL KE DUNIA…!!! ANDA TIDAK PERCAYA!!!

    LIHAT VIDEO BERIKUT DIMANA LAHIR SEORANG BAYI YANG BERMATA SATU DI ISRAEL.

    SILAHKAN KLIK DISINI http://baru2.net/wah-bayi-bermata-satu-tiba-tiba-muncul-di-israel.html

  2. Terima kasih infonya.🙂

  3. oh, oke kak “sederhana, hangat, bersahaja”
    =D
    lagi2 sebuah tulisan yang menarik…
    saya mesti banyak belajar lagi…

    baik, saya mohon izin untuk menglink web-nya
    dari “orang mars” jadi “sederhana, hangat, bersahaja”

    • Silahkan Okta, map yang ini belum lengkap.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: