Posted by: deatantyo | April 19, 2010

Mengemas Paradigma Investasi SDM

“Akhirnya, paradigma berfikir instan bangsa ini harus dirombak.”

Dimuat di harian Seputar Indonesia edisi 22 Februari 2010 dan website Okezone.com

Oleh : Dea Tantyo

“Tragedi terbesar” Ujar Oliver Wendell Holmes (1809-1894) “bukanlah hancurnya sumber daya alam, meski itu adalah masalah besar. Namun yang menjadi tragedi terbesar adalah kerusakan sumber daya manusia atas kegagalan memanfaatkan sepenuhnya kemampuan kita.”

Dikaitkan dengan konteks Indonesia, tentu tak ada yang menyangsikan betapa besar sumber daya alam (SDA) yang dimiliki bangsa ini. Namun besarnya SDA lantas tidak serta merta membawa kemajuan Indonesia di pentas Internasional. Pernyataan Oliver Holmes menggambarkan pada kita betapa nilai sumber daya manusia (SDM) merupakan  harga yang jauh lebih penting dari sekedar sumber daya alam.

Sayangnya, bicara tentang SDM Indonesia, tak ubahnya bicara tentang ‘PR’ yang tak kunjung usai. Hampir tak ada peningkatan signifikan jika membahas kualitas SDM negeri ini, terlebih jika dibandingkan dengan peningkatan negara lain. Dari laporan yang dikeluarkan United Nations Development Programme (UNDP) misalnya, tingkat SDM yang direpresentasikan dengan Human Development Index (HDI) bangsa Indonesia menempati peringkat ke- 111 dari 192 negara di tahun 2009. Peringkat ini menurun dibanding tahun 2008, yang bersanding di ranking 107, serta ranking 102 di tahun 2002. Ini menjadi anomali mengingat bangsa ini memiliki potensi sumber daya alam dan kuantitas manusia yang luar biasa.

Ketertinggalan itu dapat diidentifikasi sebagai kegagalan dalam mengubah potensi kekuatan manusia Indonesia menjadi realita keunggulan bangsa. Hal ini menjadi semakin mengkhawatirkan jika dikaitkan dengan konstelasi dinamika dunia yang telah menjamah era globalisasi. Dalam bukunya The World is Flat, Thomas L. Friedman menjelaskan sebuah analogi tentang era globalisasi yang semakin membentuk dunia menjadi kian datar, dunia tanpa tapal batas (borderless world) yang mengaminkan sebuah kompetisi berskala internasional untuk bergerak secara radikal. Konsekuensi logis dari dunia yang kian datar ini adalah suatu negara tidak lagi dapat mengandalkan keberlimpahan sumber daya alam dan tenaga kerja murah.

Bagai telur di ujung tanduk, berangkat dari pemahaman ini sepatutnya kita sadar bahwa Indonesia harus segera berbenah. Memperkuat SDM dengan pendidikan menjadi penting demi mengokohkan perekonomian dan survive dalam globalisasi. Konsep pendidikan sebagai investasi, sebagaimana pernah diungkapkan Theodore Schultz (1960) merupakan bagian erat perekonomian yang pada gilirannya akan memberikan kontribusi bagi kemajuan bangsa. Dengan pendidikan, mutu SDM akan meningkat sehingga melipatgandakan nilai tambah bagi investasi modal fisik lainnya, karena modal fisik dijalankan melalui SDM. Selain itu SDM yang tangguh juga akan menaikan ‘harga’ tenga kerja sehingga meningkatkan daya saing bangsa Indonesia di dunia.

Oleh karena itu, aspek pembenahan kuantitas dan kualitas pendidikan menjadi agenda mendesak bagi Indonesia. Pertama, diperlukan realisasi konkret pemerintah pada anggaran pendidikan 20 % demi meningkatkan infrastruktur pendidikan. Kedua, pemerataan akses pendidikan bagi rakyat yang tidak lagi berbentuk segitiga pyramid, dimana semakin tinggi jejang pendidikan semakin sedikit masyarakat yang merasakan. Ketiga, reformasi kurikulum pendidikan yang lebih visioner dengan menciptakan manusia Indonesia terdidik yang siap berkompetisi di dunia kerja.

Akhirnya, paradigma berfikir instan bangsa ini harus dirombak. Investasi SDM memang bukan sesuatu yang singkat, namun akan berefek signifikan pada jangka panjang. Ah, sepatutnya kita mengambil keteladanan dari Jepang yang pernah luluh lantak akibat perang dunia II, namun kini bangkit menjadi salah satu negara ‘terbesar’ di dunia. Caranya dengan investasi SDM disertai reformasi pendidikan.


Responses

  1. Permasalahan dunia pendidikan saja penuh lika-liku, kang..yaah klo msh inget sewaktu FGD SOLDER saya pernah ngebahas sedikit mngenai sistem pendidikan di Indonesia meskipun sedkit mnyimpang dgn studi kasus FGD nya hheee


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: